Sang Profesor

Archive for the ‘Romantika Remaja’ Category

Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang disaat kamu tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih, tapi cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi jangan terburu-buru dan pilih yang terbaik.

Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang “sempurna” bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri.

Jangan pernah bilang “I love you” kalau kamu tidak perduli. Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong.

Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya…

Cinta bukan “Ini salah kamu”, tapi “Ma’afkan aku”. Bukan “Kamu dimana sih?”, tapi “Aku disini”. Bukan “Gimana sih kamu?”, tapi “Aku ngerti kok”. Bukan “Coba kamu gak kayak gini”, tapi “Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya”.

Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.

Caranya jatuh cinta: jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan itu.

Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia bersama kamu.

Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan oleh kekasihMu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.

Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk menemukan bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan banyak waktu untuk orang yang tidak pernah menghargainya. Kalau dia tidak “worth it” sekarang, dia tidak akan pernah “worth it” setahun lagi ataupun 10 tahun lagi. Biarkan dia pergi…

Iklan

Krisis Percaya Diri adalah merupakan bagian dari kehidupan remaja. Saya sendiri sempat mengalaminya saat masih duduk di Sekolah Menengah Atas. Pada saat itu saya begitu khawatir dengan munculnya jerawat, naiknya berat badan, potongan rambut dan semua hal yang kesemuanya nggak jauh-jauh urusan penampilan. Bahkan..ssst..novel kedua saya yang berjudul “Gendut, Siapa Takut?” terbitan Grasindo, Jakarta merupakan rangkuman pengalaman masa SMA yang bukan main begitu penuh konflik.

Artikel pertama saya di selancar juga membahas mengenai sebagian keinginan diri kita yang terkadang ingin menjadi seperti orang lain. Yang hitam ingin putih, yang putih ingin hitam. Yang berambut lurus ingin jadi ikal, yang ikal ingin menjadi lurus. Bahkan sebuah rublik kesehatan di majalah remaja membuat saya ingin tertawa, dalam satu edisi memuat dua keluhan yang kontradiktif, yang satu menanyakan bagaimana caranya agar badannya yang kurus bisa menjadi gendut. Satunya lagi menanyakan bagaimana caranya badannya yang gendut bisa jadi kurus. Hahaha…

Hampir semua remaja mengalami hal tersebut, dan rela menghabiskan ratusan ribu dari koceknya hanya untuk merubah sesuatu yang tidak dia sukai dari dirinya menjadi berbeda atau menjadi apa yang dia inginkan. Terlebih lagi banyak iklan yang menawarkan perubahan penampilan fisik secara instant. Iklan-iklan produk pemutih merajalela, produk pelangsing menjamur, dan semua iklan yang menjanjikan perubahan penampilan yang serba cepat. Hemmm…Padahal banyak diantara kita yang akhirnya kecewa ternyata iklan tersebut tidak seperti yang dijanjikan. Kecewalah hati ini dan diperparah lagi dengan hilangnya percaya diri dan kecemasan yang terus menerus. Rugi banget deh!

Syukurlah krisis PeDe tidak begitu lama hinggap dalam diri ini. Saya menyadari bahwa setiap orang pasti pernah merasa tidak puas dengan penampilan fisiknya sehingga mencari cara untuk bisa “merasa” tampil lebih baik. Dan mulai bertanya dalam hati mengapa ya penampilan itu amat begitu penting bagi sejumlah orang ? Apakah Roberta Honigman & David J. Castle, yang menyatakan bahwa gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya; bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana ‘kira-kira penilaian orang lain terhadap dirinya. Sebenarnya, apa yang dia pikirkan dan rasakan, belum tentu benar-benar merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subyektif. Apakah apa yang saya nilai mengenai diri saya belum tentu seperti yang orang nilai atas saya? Apakah yang orang lain nilai mengenai diri saya adalah bukan seperti yang saya nilai atas diri saya sendiri? Akhirnya saya mencari jawaban dan menemukan pernyataan tegas atas diriku sendiri, “Bukan hanya penampilan yang saya butuhkan!”

Memang benar dalam masyarakat sudah terbentuk image bahwa seseorang yang secara penampilan lebih dari yang lainnya (Cantik, tampan, langsing, kekar, dll) akan memiliki peluang lebih besar untuk mencapai segalanya dibandingkan yang biasa-biasa saja. Padahal, kesempurnaan atau pun kecantikan itu adalah sebuah nilai yang relatif, karena berbeda antara satu individu dengan yang lain, antara satu budaya dengan yang lain, antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.

Pada tahun 1891, seorang psychopathologist dari Italia, Enrique Morselli, memunculkan istilah dysmorphobia untuk menerangkan kondisi patologis seseorang, karena terus menerus memikirkan imagine defect, atau “kekurangan imajiner” dirinya. Istilah Body Dysmorphic Disorder (BDD), secara formal juga tercantum dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder (4th Ed), untuk menerangkan kondisi seseorang yang terus menerus memikirkan kekurangan fisik minor atau bahkan imagine defect. Akibatnya, individu itu tidak hanya merasa tertekan, bahkan kondisi tersebut melemahkan taraf berfungsinya individu dalam kehidupan sosial, pekerjaan atau bidang kehidupan lainnya Padahal sebenarnya mereka tidaklah buruk seperti apa yang mereka pikirkan dan nilai. Bahkan, mereka tampak seperti orang-orang kebanyakan lainnya. Memang agak parah juga jika krisis ini terus berlanjut biasanya lambat laun mereka akan menunjukkan sikap pemalu, sulit menjalin kontak mata, komunikasi dan memiliki self esteem yang rendah. Mereka seringkali bertingkah ekstrim untuk mengkamuflase atau menutupi apa yang mereka anggap kekurangan yang memalukan. Misalnya, berulang kali bercermin, berdandan yang memakan waktu sangat lama. Mereka pikir, dengan berdandan dan mematut diri, akan mengurangi kecemasan, padahal, justru semakin lama, akan semakin membangkitkan kecemasan karena mereka semakin memperhatikan “kekurangan” tersebut.

Menurut Gary K. Arthur MD, penderita BDD pada umumnya mendatangi dokter, dermatologist, atau pun ahli bedak plastik, untuk menangani ketidakpuasan mereka terhadap beberapa bagian tubuh. Biasanya, banyak penderita BDD yang tidak hanya overly concern terhadap satu hal saja (misal, hanya pada bentuk hidung), tapi mereka biasanya juga tidak senang atau tidak puas terhadap beberapa bagian tubuh lainnya, seperti bagian dari wajah, rambut, bentuk tubuh, dan bagian tubuh yang lainnya.

Membangun konsep diri dan pola pikir yang lebih positif dan obyektif dalam menilai diri adalah merupakan solusi paling tepat untuk krisis ini. Selain itu, kita harus melatih diri untuk membangun alternatif strategi dan jalan keluar dalam mengatasi pikiran-pikiran obsessive yang mengganggu konsentrasi dan meningkatkan pengendalian diri terhadap tindakan kompulsif-nya (misalnya, untuk terus menerus bercermin). Yang tidak kalah pentingnya, adalah adanya dukungan keluarga atau sahabat untuk membicarakan emosi-emosi yang sedang kita rasakan , bersikaplah terbuka atas kekhawatiran dan kecemasan yang kita rasakan.

Memang proses ini bukanlah proses yang mudah, namun membutuhkan pengertian dan kesabaran yang dalam. Bagaimana pun, masalah krisis Percaya Diri ini adalah masalah yang cukup rumit untuk dipecahkan sendirian. Kamu tahu, kita selalu butuh orang lain untuk memecahkan persoalan!

Sumber : indari.blogspot.com

Percaya Diri atau sering lebih beken diistilahkan dengan ‘pede’ adalah hal penting yang dibutuhkan individu karena itu menunjukkan kualitas personal yang dimilikinya. Dengan memiliki PeDe berarti kita sudah memulai perjalanan hidup yang berlandaskan pada keunggulan-diri, misi hidup yang kita tentukan, cita-cita yang kita inginkan, langkah hidup yang akan kita ambil dan kemudian arah dimana kita akan meraih apa yang benar-benar kita inginkan. PeDe juga akan memotivasi kita untuk menghancurkan aral merintang dalam meraih mimpi dan harapan.Kamu tak perlu sempurna untuk memiliki PeDe, kamu hanya perlu memiliki pandangan yang baik mengenai diri kamu sendiri.

Namun sayang banget PeDe yang terjadi sekarang sudah digunakan pada hal-hal yang bukan pada porsinya. Ngga jarang PeDe didefinisikan secara ngawur dalam arti PeDe yang dibutuhkan pada sesuatu yang bukan kita butuhkan tetapi diselewengkan.Kadang kita sulit membedakan antara PeDe dengan merasa benar sendiri (Egoism). Padahal sebenernya sih PeDe yang sesungguhnya dengan merasa menang sendiri bukanlah karena perbedaan kadar melainkan murni karena motif yang ada di dalamnya. Artinya, baik praktek perilaku, sifat, dan sikap mau menang sendiri bukanlah karena kadar rasa percaya diri yang terlalu kuat melainkan justru karena kurang dari kadar yang dibutuhkan dan akhirnya menyimpang

Ketika kita membangun asumsi dasar mengenai diri kita Pede yang menyimpang berangkat dari sumber motif berupa perasaan yang merasa kurang memiliki kemampuan potensial untuk diolah menjadi keunggulan guna mengalahkan tantangan yang ada guna meraih apa yang diinginkan, biasanya kita berpikir untuk mengambil solusi dari luar yang nggak jarang kontra banget dengan kepentingan orang lain yang memiliki keyakinan serupa. Di level internal, keyakinan demikian sering membuat orang merasa tidak punya alasan untuk menghargai dirinya secara positif, misalnya saja munculnya perasaan Self-laziness atau “The I cannot attitude”. Pede yang yang menyimpang (cth: ego-centered, dll) juga berangkat dari sumber perasaan yang merasa takut secara berlebihan (feeling of fear). Orang yang pede dalam arti ‘self confidence’ bukanlah orang yang tidak memiliki rasa takut atau rasa kurang tetapi ia memiliki kemampuan bagaimana menguasainya (self mastery) agar tetap berada dalam norma kadar yang bisa dikendalikan. Asumsi dasar yang digunakan berangkat dari perasaan memiliki kemampuan (self-sufficient) untuk mengatasi tantangan dan merealisasikan apa yang diinginkan.

Rasa Percaya diri seperti inilah yang sebenarnya kita butuhkan. Bedanya lagi, pede yang terakhir adalah murni berupa pencapaian kualitas hidup yang diraih seseorang melalui proses usaha, sementara pede yang menyimpang bisa kita katakan sebagai limbah yang berarti untuk mencapainya tidak diperlukan proses atau usaha pun.

Sesungguhnya dalam diri kita sebenarnya sudah memiliki patokan yang dapat membedakan antara PeDe dengan mau menang sendiri jika kita memiliki Perasaan (Emotional) , Hati (Spiritual) , dan Akal (Intellectual) . Ketiganya bisa menciptakan usaha untuk mencerdaskannya secara terus-menerus. Perasaan adalah perangkat internal untuk merasakan impuls atau stimuli (godaan & tawaran) yang dapat membedakan bad dan good.

Hati berfungsi untuk memaknai kebenaran hukum alam yang sudah diformalkan atau yang belum, hatilah yang akan berbicara dengan ‘suara hati kecil’. Dilihat dari sebutannya saja sudah bisa ditebak mengapa kita jarang mendengarkannya. Akal memiliki banyak penglihatan sehingga dikatakan ‘the window’, pintu exit-permit yang bisa menyumbangkan muatan perasaan atau keyakinan. Patut diakui di antara penyebab penyimpangan adalah adanya pengetahuan oleh akal yang tidak bisa menghasilkan pemahaman personal secara definitive antara rasa percaya diri dan mau menang sendiri.

Ada beberapa saran supaya kita tidak terjerumus dalam PeDe yang menyimpang yaitu Pertama, Miliki kebiasaan untuk mencerdaskan pikiran, perasaan, dan hati adalah kebutuhan mutlak. Kedua, Untuk mempertebal rasa percaya diri, kita melawan kecenderungan internal yang menawarkan godaan untuk menyimpang sementara jurus mempertahankan kita gunakan untuk memperkuat pertahanan dari serangan luar.

Penggunaan yang salah dengan membalik fungsi akan memperlemah personal power yang berarti dapat memperlemah rasa percaya diri.Ketiga, memiliki komitmen untuk merealisasikan gagasan ke tindakan secara sirkulatif bisa mempertebal rasa percaya diri dengan syarat sampai mendapat apa yang disebut ‘the moment of truth’ atau sampai benar-benar berhasil. Ketika kamu yakin PeDe kamu benar, ketika kamu percaya pada diri kamu sendiri dan kamu mengharapkan mencapai sesuatu, maka kamu akan mencapainya.

So, PeDe aja lageee!.

Semakin kita kehilangan suatu kepercayaan diri, maka akan akan semakin sulit kita memutuskan yang terbaik yang harus kita lakukan pada diri kita sendiri. Keragu-raguan itu akan pula menyulitkan kita untuk mengaktualisasikan siapa diri kita sebenarnya. Bisa jadi kita yang seharusnya menjadi lebih baik dari sekarang, tetap pada posisi yang sama. Tidak bergerak maju.

Cantik merupakan satu yang terpancar dari kepercayaan diri yang telah kita bangun. Mungkin keadaan jasmani kita tidak semolek selebritis, tapi kita pandai memanfaatkan kelebihan yang kita miliki untuk menghalangi orang memandang kekurangan kita, melainkan hanya melihat kelebihan kita saja. Kita begitu percaya diri dengan apa pun yang kita miliki.

Arti Sebuah Kecantikan

Menjadi cantik, siapa sih yang tidak mau…setiap cewek menginginkan dirinya diberikan anugerah kecantikan yang sempurna dari Tuhan, cantik dan menjadi perhatian banyak orang, terkenal dan bangga dengan dirinya sendiri. Menjadi cantik apakah selalu diukur dengan keindahan lahiriah saja? Masing-masing orang memiliki jawaban yang berbeda dan itu kembali pada sejauh mana orang tersebut menilai arti sebuah kecantikan.

Paling sering kita sekarang mendengan Inner beauty yaitu kecantikan yang berasal dari dalam. Sudah jelas bahwa kecantikan memang bukan saja melihat secantik apa wajah kita, seindah apa tubuh kita, tapi kecantikan dari dalam dapat mendongkrak sisi terburuk yang kita miliki.

Lulu Dewayanti, moldel beken Indonesia bisa jadi patokan yang bagus. Wajahnya tidak begitu cantik, tapi percaya dirinya yang kuat telah membuat pribadinya begitu menarik. Dia sukses di model bukan dengan mengandalkan wajah cantik melainkan dia berusaha mencapainya dengan percaya diri.

Jika kita Tidak merasa Cantik

Membandingkan diri kita dengan supermodel..wah jauh sekali,..mereka terlihat sangat cantik dalam suasana apapun tapi kita..mengapa kita selalu merasa jelek dibandingkan orang lain…ubahlah pandangan itu dalam diri kita karena tak ada satupun mahluk Tuhan diciptakan jelek..semuanya cantik, tergantung darimana kita memandangnya, okelah dari sudut lahiriah supermodel adalah mahluk yang cantik tapi jauh dilubuk hati yang terdalam kita adalah yang paling cantik.Bentuklah kecantikan sesuatu dengan apa yang kamu inginkan, kalaupun memang benar kamu merasa tidak cantik tapi buatlah diri kamu cantik dengan selalu menjadi orang serasi dalam mempadu-padankan busana, menata diri kamu sebaik mungkin dan jadilah orang yang menyenangkan bagi setiap lingkungan yang kamu datangi.

Mengubah pandangan mengenai Arti cantik yang sesungguhnya

Jangan menilai kecantikan dari keindahan lahiriah saja, ubahlah pandangan kamu mengenai arti kecantikan kamu, kecantikan tidak dapat dinilai dari satu sudut pandang saja melainkan dari berbagai segi yang satu sama lain saling mendukung, kecantikan adalah perpaduan dari keindahan lahiriah dan batiniah, keindahan lahiriah tanpa keindahan batiniah akan terasa hambar tetapi keindahan Batiniah akan memancarkan keindahan lahiriah. Kecantikan lahiriah akan terasa hambar jika tidak diseimbangi oleh kecantikan batiniah.

Syukuri yang kamu miliki

Rasa syukur akan segala karunia yang Tuhan berikan kepadamu akan membuat diri kamu selalu merasa bahagia pada setiap harinya, kamu menjadi orang yang tak pernah mengeluhkan suatu hal, kamu selalu dapat menempatkan diri kamu pada porsi yang sesungguhnya, kamu menghargai diri kamu sendiri dengan apapun bentuk kekurangan dan kelebihan kamu, kamu bersyukur dan kamu akan selalu merasa bahagia, kebahagiaan yang kamu rasakan akan terpancar pada sikap keseharian kamu, kamu menjadi ceria dan selalu tersenyum, maka kecantikan yang kamu idamkan akan kamu dapatkan.

Alangkah bahagianya jika kita dapat menyuskuri siapa pun diri kita. Kita akan terhindar dari perasaan iri, dengki, rendah diri, dan tertekan. Kita akan mencintai diri kita sendiri, dengan kondisi apa pun yang kita miliki.
Desi Fitri, seorang penyanyi yang memiliki kekurangan pada anggota badannya, begitu tampil percaya diri dengan kelebihan pada suaranya. Suaranya yang merdu dipergunakan untuk membuatnya lebih menarik. Lupakan kekurangan yang kita miliki, karena tak ada seorangpun yang sempurna.

Keindahan Batiniah

Banyak orang mengatakan keindahan batiniah (inner beauty) sangat sulit untuk dimiliki tapi itulah kecantikan yang mutlak harus dimiliki setiap orang, keindahan lahiriah akan dengan mudah dimiliki apalagi di abad canggih ini, orang yang berhidung pesek bisa mancung, orang berkulit hitam bisa menjadi putih, semuanya bisa mungkin untuk menjadi indah secara lahiriah tapi kenapa alangkah sulitnya mencapai keindahan batiniah?..untuk mencapai keindahan yang mutlak ini diperlukan suatu kesadaran bahwa keindahan batiniah adalah yang paling penting untuk dimiliki. Dan untuk mencapai keindahan batiniah adalah memerlukan suatu proses yang sulit jika tidak diimbangi oleh keyakinan diri sendiri bahwa itulah yang harus dimiliki.

Kecantikan Lahiriah tidaklah abadi

Bolehlah sekarang kamu merasa sombong dengan keindahan lahiriah yang kamu miliki tapi ingat bahwa keindahan itu hanya sesaat kamu miliki, tak ada yang abadi dalam kehidupan ini selain keindahan batiniah. Seiring dengan waktu akan memudarkan kecantikan kita, pelan namun itu pasti terjadi, namun apakah keindahan batiniah itu akan pupus seiring dengan waktu? Tidak malahan akan bertambah indah jika kamu terus mengembangbiakannya dan memeliharanya. Pribahasa mengatakan Harimau mati meninggalkan belangnya, Gajah mati meninggalkan Gadingnya, ini berarti bahwa yang ditinggalkan manusia pada kehidupan ini adalah kebaikannya.

Satu yang tak boleh kita lupakan. “TETAPLAH PERCAYA DIRI WALAU SIAPAPUN DIRI KAMU”

Cantik tanpa percaya diri, maka akan menjadi hambar. Percaya diri walau tidak cantik, maka akan menjadi menarik.

Menawar Virus Cinta

Senin, 15/02/2010 04:59 WIB | email | cetak | share

Oleh M. Arif As-Salman

“Ya Allah andaikan ia jodoh hamba, mantapkanlah hati ini, teguhkanlah langkah ini, terangilah jalan ini dan permudah urusan ini…”

Ia sesenggukan. Nafasnya tidak teratur. Butiran-butiran bening menggenangi kedua pipinya. Doa itu kembali ia lantunkan untuk kesekian kalinya. Ia tak lagi sadar entah sudah berapa kali doa itu ia baca. Hatinya penuh harap, jiwanya bergetar hebat, perasaannya tak menentu. Dadanya mulai sesak. Matanya semakin basah. Ada getaran-getaran aneh yang ia rasakan dalam hatinya, inikah namanya cinta?

“Ah, begitu dahsyatkah rasanya. Sedang aku belum pernah melihatnya, aku hanya tahu namanya,” lirihnya.

Namanya Faiz, lengkapnya Muhammad Faiz Hakiki asal dari Padang Panjang. Ia adalah mahasiswa tingkat IV Fakultas Ushuludin, Jurusan Hadits. Dulu temannya yang bernama Adi pernah menyarankannya jika ingin meminta sesuatu pada Allah, maka kuncinya adalah 222. Maksudnya, bangun jam dua malam, shalat dua rakaat dan mintalah pada Allah sembari kedua mata meneteskan air mata. Itulah saat yang tepat untuk mengadu pada Allah. Dan itu yang saat ini ia lakukan. Ia tengah dilanda ombak-ombak cinta. Ia tengah dimabuk pesona. Tapi ia tak ingin terjerat pada cinta hina. Ia ingin mereguk cinta suci, cinta murni yang akan mengantarkannya pada pengabdian hakiki pada Ilahi.

“Ya Allah, jika perasaan ini lahir dari syahwat maka buanglah perasaan menjijikkan itu dari hamba, seperti dibuangnya kotoran. Namun jika perasaan ini adalah kehendak-Mu maka mudahkanlah langkah ini, izinkahlah diri ini mereguk setetes dari samudera cinta-Mu yang suci…”

Ia terus berdoa, air matanya kian mengalir deras, hatinya bergemuruh, doa-doa syahdu terus ia dendangkan, semakin khusyuk, semakin hanyut, larut dan semakin dalam..

Ia tak mengerti kenapa nama gadis itu selalu muncul dalam pikirannya, setiap kali nama itu ia eja ada kedamaian yang ia rasakan, setiap kali nama itu ia lafazkan dalam istikharahnya, ada embun kesejukan yang jatuh di taman hatinya. Inikah pertanda rasa ini diridhai Allah?

Gadis itu belum pernah ia lihat. Gadis yang hanya ia kenal namanya -dalam masyarakat minang di Mesir, pergaulan sangat terjaga. Laki-laki hanya bisa tahu nama wanita saja, tapi tak pernah tahu siapa orangnya-.

Gadis Minang itu bernama Nurul Azizah. Gadis itu pernah menulis di salah satu rubrik Buletin Mitra Kesepakatan Mahasiswa Minang (KMM-Mesir). Dan tulisan gadis itulah yang membuatnya saat ini merasakan gejolak rasa yang begitu hebat. Ya. Umpama badai tsunami yang menggulung-gulung tinggi mendera hatinya. Baru kali ini semenjak di Mesir membaca sebuah tulisan yang begitu menggugah hatinya, menyentuh jiwanya dan membuatnya kagum luar biasa. Bismillah masya Allah. Adakah perasaan serupa dirasakan oleh pembaca-pembaca yang lain. Ia tidak tahu pasti. Apakah ia menyukai gadis itu karena tulisan yang mampu menginspirasi dan menggugah hatinya, ataukah karena memang jalan takdir tengah dibentangkan dihadapannya…?

***

Waktu menunjukkan pukul 04 pagi. Hawa dingin masih menyelimuti kota Kairo. Sebahagiaan orang-orang telah terbangun dari tidurnya. Bangun di penghujung malam, di saat musim dingin yang tengah berada di puncak-puncaknya memang membutuhkan kekuatan iman yang luar biasa. Iman yang tahan banting dalam segala musim. Iman yang tak mudah roboh diterjang badai nafsu, tidak berkurang dengan berkurangnya usia dan tidak berubah dengan berubahnya keadaan.

Terlihat di beberapa rumah lampu telah kembali menyala. Gadis itu masih khusyuk dalam shalatnya yang panjang. Kecintaan-Nya pada Sang Khalik membuatnya tidak tahan berlama-lama berada di atas kasur. Ketika malam telah melewati setengahnya, ia terbangun dari tidurnya. Begitulah kesehariannya, seorang hamba yang hatinya dipenuhi kerinduan pada Sang Pencipta.

Usai shalat ia membaca al-Qur`an. Suaranya begitu merdu. Bacaannya fasih, nyaris tak satu makhrajpun yang salah. Alam seolah ikut bertasbih dengannya. Hampir setiap malam ia berdiri dan sujud di hadapan Allah. Meninggalkan kasur yang empuk untuk bermunajat pada Allah. Begitulah keadaan orang-orang yang jujur dengan imannya pada Allah dan pada akhirat. Allah menggambarkan keadaan mereka dalam firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap…” (As-Sajdah[32] : 15-16)

Ialah Nurul Azizah, mahasiswi asal Padang, tingkat III Fakultas Syariah Islamiah. Gadis lembut dan keibuan yang tahun ini meraih nilai imtiyaz itu tak pernah meninggalkan shalat tahajud. Di saat itulah ia begitu merasakan kenikmatan bercinta dengan Allah, kenikmatan jiwa yang tiada tara, tak terbeli oleh apapun. Kedamaian di saat membaca ayat-ayat-Nya, ketentraman saat melafazkan asma-Nya. Cinta-Nya kepada Allah semakin bertambah. Kerinduannya berjumpa dengan Allah seolah tak lagi bisa ia tahan. Setiap kali ayat-ayat Allah ia lantunkan jiwanya bergetar hebat, ombak-ombak cinta dan rindu mengguncang hatinya, ia kadang tak tahan, ia menjerit, lalu ia menangis, “Ya Allah, berilah hamba kekuatan…”

Nurul Azizah selalu menebar pesona. Keberadaannya dimana saja memberi cahaya kebaikan. Kata-katanya mampu memberi ruh pada setiap jiwa yang mendengarkan. Keteduhan wajahnya memikat siapapun yang memandangnya. Akhlaknya menyejukkan hati. Kecantikannya pun diakui. Ia menyadari hal itu. Demi menjaga dirinya dan orang lain, ia memakai cadar. Entahlah, jika saja mata laki-laki melihat wajah bersih yang selalu bersinar terang itu, laki-laki itu akan jatuh hati seketika pada wajah yang selalu dibasahi dengan air wudhu dan genangan air mata di saat munajatnya pada Allah di malam hari.

***

Faiz masih ragu untuk melangkah. Ada deraan bisikan mengganggu pikirannya. Siapalah dirinya. Mahasiswa yang tidak begitu berprestasi. Apalagi setelah ia tahu siapa Nurul Azizah ia semakin sadar akan dirinya. Jika ia umpama bintang yang bersinar di malam hari maka Azizah adalah purnamanya. Tapi apakah ia layak menjadi bintang di langit warga Minang di Mesir dan Mahasiswa Indonesia lainnya. Apakah ia punya prestasi yang bisa dibanggakan? Apakah laki-laki seperti dirinya layak menikah dengan Azizah. Mungkin ia akan lansung ditolak. Ia bandingkan dirinya dengan teman-teman seangkatannya yang selalu sukses, abang-abang yang menurutnya lebih layak untuk melamar Azizah. Ia belum tamat S-1, sedangkan di tengah warga Minang di Mesir, begitu banyak mahasiswa-mahasiswa S2 yang lebih berkualitas belum menikah. Kenapa mereka tidak melamar Azizah? Apakah mereka tidak tahu gadis sekualitas Azizah, ataukah mereka belum ingin menikah, ataukah mereka belum punya kesiapan, berbagai pertanyaan berkelabat dalam pikirannya.

Tapi kekuatan ketentraman setelah istikharah terus mendorongnya untuk melangkah. Memberanikan diri.

“Ya Allah kuatkanlah hati ini. Jikalaupun nanti hamba ditolak, hamba sadar hamba bukanlah siapa-siapa. Kuatkanlah mental hamba ya Rabb. Hamba ikhlas dengan apapun yang akan terjadi. Hamba hanya mengharap ridha-Mu. Jika ia jodoh hamba, tak satupun makhluk-Mu yang bisa mencegah, jika ia bukan ditentukan untuk hamba, maka segala daya apapun hamba lakukan, hamba tidak akan bisa mendapatkannya.”

Hari itu Faiz menemui ustadz Rahim di rumahnya, di kawasan Saqar Qurays. Beliau adalah salah seorang senior warga Minang di Mesir yang telah berkeluarga. Ia meminta tolong pada istri ustadz Rahim untuk menyampaikan lamarannya pada Nurul Azizah. Istri ustadz Rahim menyatakan kesediaannya.

***

“Bagaimana ukhti Azizah, ukhti menerima lamaran Faiz? Tanya Ni Faridah, istri ustadz Rahim setelah menceritakan tentang lamaran Faiz dan progil singkat Faiz.

“Azizah bagaimana menurut Ayah saja nanti, Uni. Insya Allah dalam dua hari ini Azizah akan menelpon pulang ke Indonesia. Jika ayah setuju, insya Allah Azizah akan menerima, jika Ayah belum setuju, semoga uda Faiz tidak berkecil hati.” Jawab Azizah sambil mengembang senyumnya yang khas, yang mampu memikat siapapun yang melihatnya.

“Apakah Azizah sudah merasa mantap dengan da Faiz? Kan baru kenal dan belum pernah lihat orangnya? Ni Faridah mencoba menelusuri lubuk hati Azizah.

“Uni, siapapun yang datang melamar Azizah, selama agamanya baik dan akhlaknya bagus, itu sudah cukup bagi Azizah, tidak ada alasan untuk menolaknya, Azizah yakin tujuan da Faiz menikah untuk kebaikan, bukankah kebaikan itu harus didukung uni. Da Faiz tengah berikhtiar untuk kebaikan agamanya, namun jika taqdir berkata lain, jalan yang akan ditempuh terasa begitu sulit nantinya, dan tak ada lagi pintu jalan keluar yang bisa diketuk, berarti bukan jodoh uni”. Jelas Azizah dengan tenang.

“Tentang kesiapan Azizah untuk menikah bagaimana?”

“Insya Allah Uni. Sejak tamat dari Aliyah hampir tiga tahun yang lalu Azizah sudah mulai menyiapkan diri untuk menjadi seorang istri, walau saat ini masih dalam proses, tapi insya Allah dengan berjalannya waktu, semua itu akan matang nantinya.”

“Alhamdulillah, uni akan senantiasa mendoakan Azizah”

“Terima kasih uni, semoga Allah mengabulkannya”

” Amin”

***

Hati Faiz berbunga-bunga. Wajahnya tampak cerah. Ia merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan oleh sastrawan legendaris sekalipun. Azizah telah menyampaikan kesiapannya. Ayah dan ibunya pun telah menyetujui. Berulang kali ia sujud syukur. Faiz seolah tidak percaya, mahasiswa sederhana seperti dirinya akan menikah dengan seorang mahasiswi yang ternyata banyak diincar oleh mahasiswa-mahasiswa Minang. Secara diam-diam mereka berharap bisa menikah dengan Azizah. Tapi kini semua telah terlambat. Harapan mereka kini telah kandas. Impian mereka tak lagi berarti. Mereka telah kalah satu langkah cepat dan keberanian dari Faiz. Keberanian untuk menapaki kebaikan. Sebagian mereka cenderung menunda dan ragu untuk melangkah atau terlalu banyak pertimbangan dan basa-basi.

Kini, Faiz tengah menyiapkan hari bahagianya. Hari yang begitu indah. Hari disaat ia dipertemukan dengan bidadari impiannya dalam ikatan yang suci. Hari yang selalu didamba oleh pecinta suci. Hari yang agung. Hari yang tak terlupakan selama hidup.

Banyak pemuda yang harus menelan kecewa dan menyesali diri, tapi apa hendak dikata Allah sudah mengatur segalanya.

***

Ternyata tidak hanya Azizah yang berkualitas, masih banyak mahasiswi-mahasiswi Minang lainnya yang tak kalah kualitas, anggun dan pintarnya dari Azizah, bahkan melebihi Azizah. Ada Rahima, Zakiya, Najiya, dllnya. Azizah hanyalah salah satu dari bidadari-bidadari itu. Mereka memang tidak banyak dikenal di dunia luar. Tapi pesona dan keanggunan mereka selalu semerbak wanginya. Mereka umpama-umpama bidadari-bidadari yang bersembunyi di balik cadar-cadar. Ketika mereka telah halal, dan ketika cadar itu disingkap sungguh mereka bagai intan mutiara yang begitu tinggi nilainya. Subhanallah

Nah, siapakah pemuda beruntung berikutnya? Kita tunggu saja kisah pemuda pemberani selanjutnya …^_^

***

Kisah diatas terinspirasi dari kisah nyata yang diceritakan seseorang. Semoga ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari kisah diatas.

Untuk akhi Faiz-nama samaran- “Baarakallaahu laka wabaaraka `alaika wajama`a bainakumaa fiikhairin, aamiin.”

Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetap saja musim dingin,hanya suasananya lebih undah sedikit

Dihadapan orang yang kau cintai
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja.

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
Kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai
Kata-kata hanya keluar dari pikiran saja.

Jika orang yang kau cintai menangis,engkaupun akan ikut menangis disisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,engkau hanya menghibur saja.

Perasaan cinta itu dimulai dari mata sedangkan rasa suka dimulai dari telinga.
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,cukup dengan menutup telingga,
Tapi apabila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,cinta itu
berubah menjadi tetesan air mata dan terus tinggal dihatimu dalam jarak waktu
yang cukup lama.
“Tetapi selain rasa suka dan rasa cinta… ada perasaan yang lebih mendalam,yaitu
rasa saying…rasa yang tidak hilang secepat rasa cinta.Rasa yang tidak mudah
berubah.
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban untuk orang yang kamu sayangi.Mau
menderita demi kebahagiaan orang yang kamu sayangi.Cinta ingin memiliki,tetapi
sayang hanya ingin melihat orang yang disayanginya bahagia….walaupun harus
kehilangan.

Untuk seseorang yang sedang jatuh cinta……….

Kekuatan Api Cinta

api cintaHati itu terkadang seperti baja, maka jangan digergaji, dikapak ataupun di palu…

Alkisah suatu ketika, Kapak, Gergaji, Palu, dan Nyala Api sedang mengadakan perjalanan bersama-sama. Di suatu tempat, perjalanan mereka terhenti karena terdapat sepotong besi baja yang tergeletak menghalangi jalanan. Mereka berusaha menyingkirkan baja tersebut dengan kekuatan yang mereka miliki masing-masing.

“Itu bisa Aku singkirkan,” kata Kapak. Pukulan-pukulannya keras sekali menghantam baja yang kuat dan keras juga itu. Tapi tiap bacokan hanya membuat kapak itu lebih tumpul sendiri sampai ia berhenti.

“Sini, biar aku yang urus,” kata Gergaji. Dengan gigi yang tajam tanpa perasaan, ia pun mulai menggergaji. Tapi kaget dan kecewa ia, semua giginya jadi tumpul dan rontok.

“Apa kubilang,” kata Palu, “Kan aku sudah omong, kalian tidak bisa. Sini, sini aku tunjukkan caranya.” Tapi baru sekali ia memukul, kepalanya terpental sendiri, dan baja tetap tak berubah.

“Boleh aku coba?” tanya Nyala Api. Dan ia pun melingkarkan diri, dengan lembut menggeluti, memeluk, dan mendekapnya erat-erat tanpa mau melepaskannya. Baja yang keras itu pun akhirnya meleleh dan cair…


Iklan