Sang Profesor

Paradigma NU-Muhammadiyah

Posted on: Maret 11, 2010

Jumat, 05 Maret 2010 pukul 10:02:0

Imam Addaruqutni
(Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah)

Secara historis, bangsa Indonesia menganut berbagai macam agama dan keyakinan. Karena itu, pluralitas secara keseluruhan merupakan realitas eksistensial dan historis serta lebih sebagai faktor pemersatu perpecahan. Platform nasional Bhinneka Tunggal Ika kita mempertegas truisme ini. Tidak berlebihan kalau pluralitas kita juga merepresentasi pluralitas global. Ratusan suku dengan masing-masing bahasa, budaya, institusi sosial, dan keberagamaan yang ada memberi makna pentingnya saling menghormati. Ini merupakan modalitas sosial, bahkan politik bangsa ini.

Dalam konteks Islam, meski Indonesia berada dalam titik koordinat terjauh dari lokus lahirnya Islam (Arab), Islam merupakan mayoritas secara kuantitatif. Secara sosiologis, hal ini dimungkinkan bukan karena pendekatan klerikal ataupun skriptural, melainkan proses proselitisasi Islam nusantara yang lebih disebabkan oleh proses budaya.

Dengan ini, dimaksudkan bahwa penerimaan Islam oleh bangsa Indonesia, secara posfaktum, disebabkan Islam mengambil bentuk budaya bercorak isoteris yang saling beradaptasi dengan dialektika budaya lokal sehingga terjadi enkulturasi antara keduanya.

Belakangan, sejalan dengan perkembangan dunia baru Islam (LS Stoddard), menyeruak kontroversi di kalangan umat Islam yang mulanya menyangkut spektrum pemahaman Islam. Kemudian, secara tak terhindarkan merepresentasi dua blok besar paradigma Islam Indonesia, yaitu blok yang tetap meneruskan traditional Islam (TRADISLAM) vis-à-vis purified Islam atau puritant Islam (PURISLAM), yaitu blok yang ingin menimbang kembali Islam yang bercampur tradisi berdasarkan ortodoksi (Alquran dan Alsunnah al Nabawiyah).

Konstruktivisme paradigmatik tradislam di atas kiranya memperjelas proses tradisionalisasi Islam yang dimulai dengan gerak Islam ke kanan dan ke kiri (oscillation) yang secara resiprokal terjadi pula pada tradisi lokal.

Akomodasi Islam terhadap kultur lokal mengandaikan terjadinya transformasi Islam Indonesia secara tipikal, bukan Islam Arab, Iran, Pakistan, atau mana pun. Bahkan, secara kategoris dan dalam batas tertentu, ‘bukan pula Islamnya Nabi Muhammad dan para sahabat’, melainkan Islam dengan kemungkinan modifikasi pada aspek-aspek artifisial (furu’yah) yang dilulur dengan kaidah ushuliyah/fiqhiyah yang mapan.

Secara konseptual, konteks inilah yang lebih relevan karena label tradislam sering dilekatkan pada Nahdlatul Ulama (NU) selama ini, di luar pengaitannya dengan doktrin Ahl al-Sunnah wa’l Jama’ah (AS WAJA).

Berbeda dengan NU dengan varian Islam Indonesia, Muhammadiyah memandang bahwa Islam itu universal dan tunggal.

Pengaitan Islam dengan menyertakan faktor budaya di luar sunnnah Nabi Muhammad, termasuk model tradislam atau apa pun, bukan lagi Islam, melainkan Islam yang telah terkontaminasi dan secara radikal harus direformasi sesuai dengan petunjuk Alquran dan praktik Nabi Muhammad.

Konstruktivisme paradigmatik purislam tampak merupakan antitesis terhadap tradislam. Dalam paradigma purislam, Muhammadiyah mengandaikan terjadinya transformasi Indonesia yang Islami untuk tidak mengatakan Islamisasi Indonesia. Proses yang berlangsung adalah dekonstruksi atas tradislam yang notabene telah ada jauh sebelum lahirnya NU untuk dikoreksi dan direkonstruksi menjadi (ringkasnya) Islam Alquran-hadis. Di sinilah letak pengertian bahwa purislam Muhammadiyah tidak berwatak Islamisasi Indonesia secara kategoris ataupun secara radikal.

Hal itu telah terbukti dalam sejarah. Ahmad Syafe’i Ma’arif dalam hal ini adalah tokoh sentrifugal Muhammadiyah yang dalam perannya tidak jarang dikritik dan dihujat oleh sesama kalangan Muhammadiyah sendiri dan di luar itu.

Akan tetapi, keduanya secara fundamental berada pada basis yang sama ‘Islam Sunn’. Malahan, pendiri Muhammadiyah dan NU ini adalah murid dari guru yang sama (al-Syekh Ahmad Khatib).

Saat ini, baik Muhammadiyah maupun NU mengeksplorasi trilogi persaudaraan: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama Islam, sesama anak bangsa, dan sesama anak manusia).

Ukhuwah Islamiyah
Kita berharap bahwa trilogi persaudaraan ini tidak dicederai lagi oleh mental korup dari para pelaksana negara ini. Korupsi yang masih berlangsung di negeri ini merupakan pengkhianatan terburuk dari pernyataan kepercayaan pada kepribadian nurani bangsa. Kemakmuran, kesejahteraan, keamanan, dan kedamaian adalah harga dan arti yang sebenarnya mengapa kita ingin merdeka. Muhammadiyah dan NU serta seluruh eksponen kaum beragama yang ada semakin percaya bahwa disharmoni, konflik, dan bentrok antarsesama untuk beberapa kurun terakhir bukan disebabkan oleh faktor agama, melainkan karena kohabitasi kemiskinan, ketidakadilan hukum, moralitas yang rendah dari aparat penegak hukum, korupsi oleh para pelaksana pemerintahan negara.

Kita semua adalah kaum demokrat. Tetapi, jika demokrasi yang dijalankan oleh para pelaksana negara kita tidak mewujudkan kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan lahir batin bagi rakyat; klaim demokrasi kita hanya melahirkan para otoritarian berjubah demokrat.

Lagi-lagi, agama dipersalahkan untuk tidak mengatakan Tuhan dipersalahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: