Sang Profesor

Aceh Bukan Rumah Teroris

Posted on: Maret 11, 2010

Kamis, 11 Maret 2010 | 03:31 WIB

Hamid Awaludin

Kekerasan tampaknya enggan beranjak dari Aceh. Setelah perang melawan penjajah beratus tahun nyaris tanpa jeda, Aceh masih saja dilanda konflik kekerasan pasca-kemerdekaan yang mengental dalam istilah Gerakan Aceh Merdeka atau GAM.

Kekerasan ini sirna seusai sebuah momentum perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, sebagai puncak perundingan berbulan-bulan antara Pemerintah RI dan pimpinan GAM.

Sudah lima tahun Aceh menata hidup sebagaimana kawasan menggeliat lain di Indonesia. Akan tetapi, makhluk berjubah kekerasan ini ternyata tak pernah rela meninggalkan Tanah Rencong. Dalam sepekan terakhir, kita kembali dikejutkan oleh penemuan kamp pelatihan teroris oleh polisi di sana.

Kekerasan terjadi, sejumlah polisi jadi korban dan sejumlah pelaku teror ditangkap. Rakyat Aceh kembali dihadapkan pada cerita lanjutan tentang kekerasan di halaman rumah mereka, cerita yang tadinya mereka anggap telah selesai. Kali ini, bintangnya makhluk berjubah teroris.

Ya, teroris. Sekelompok orang bertameng agama yang menghalalkan segala cara untuk tujuan- tujuan yang hanya bisa dirumuskannya sendiri. Pada saat ruang gerak nyaris tak ada lagi di kawasan lain di Indonesia, kelompok ini rupanya hendak membangun rumah baru di Aceh, daerah yang rakyatnya mulai menata harapan setelah bertahun- tahun kehilangan masa depan. Dan, kita pun menemukan alasan mengapa terorisme harus dikutuk. Terorisme adalah gerakan sistematis yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Gerakan pasti dilakukan dengan perencanaan matang, kalkulasi jelas dan detail.

Maka, pemilihan Aceh sebagai basis pergerakan baru pasti tidak kebetulan dan dengan berbagai pertimbangan matang. Pertama, selama ini, pergerakan terorisme di Tanah Air, di mana-mana, digempur habis oleh negara. Mereka tersudut dan susah lagi menemukan wilayah jelajah yang aman. Nah, Aceh adalah pilihan karena di sana memang, pegunungan dan hutan rimba, bisa memberi perlindungan yang aman bagi pelatihan kelompok bersenjata yang selalu ingin menyamar dan menyelusup.

Tak kenal batas

Posisi geografis Aceh di ujung barat Indonesia membuat gerakan mereka sangat dinamis. Lalu lintas untuk menjalin hubungan ke luar, termasuk pemasokan dan distribusi logistik amunisi, dengan mudah dilakukan. Dalam konteks ini, gerakan terorisme pastilah menempatkan Aceh sebagai pilihan utama karena gerakan terorisme adalah jejaring yang tak mengenal tapal batas kebangsaan (Richard English, Terrorism, 2003).

Mereka boleh jadi menganggap hutan-hutan Aceh adalah rumah yang aman dan leluasa, sebagaimana dulu anggota GAM bisa eksis berpuluh tahun. Itu ditambah halusinasi tentang heroisme para pejuang Aceh yang bergerilya di belantara, yang bisa muncul bagi siapa pun yang mengetahui riwayat Perang Aceh, tak heran jika para teroris memilih Aceh sebagai rumah baru.

Mereka rupanya juga berharap dapat berlindung di balik nama besar GAM. Mereka menyaru guna dipersepsikan sebagai anggota GAM. Niat ini tunggal, mereka ingin agar GAM dituding sebagai biang. Mereka lupa bahwa para eks-anggota GAM sudah menyatu dengan masyarakat Aceh tanpa ada garis demarkasi lagi.

Nostalgia masa lalu soal perjuangan bersenjata Daud Beureueh di Aceh bisa jadi juga masuk kalkulasi perencanaan. Mereka mengira jejak dan napas perjuangan Beureueh bisa membangkitkan dukungan rakyat Aceh atas aksi mereka. Kekeliruan dugaan mereka ternyata mendasar. Kemampuan polisi menguasai medan Aceh patut dipuji.

Keandalan aparat negara untuk secara obyektif mengidentifikasi antara gerakan terorisme dan mantan aktivis GAM telah memupus mimpi para teroris. Mereka alpa dengan kenyataan bahwa polisi Indonesia adalah polisi terbaik dunia dalam penanganan teroris. Mereka juga gagal karena menganggap rakyat Aceh masih seperti dulu, yang menganggap biasa lalu lalang serdadu berderap memanggul senjata.

Pada musim panas 1975, di sebuah desa dengan penduduk Basque di pedalaman Spanyol, dua orang terbunuh: seorang pengemudi bus dan Carlos, seorang informan polisi. Pembunuhnya adalah dua teroris anggota ETA, gerakan pembebasan Basque. Carlos ditembak di atas bus, di depan mata saudaranya. Tubuhnya digeletakkan begitu saja beberapa hari. Sekelompok perempuan desa yang menyaksikan aksi brutal ini hanya bisa mengangkat bahu: ”Baina, ori nola leike?”– Lho, kok, bisa begini? (Richard English, Terorism, 2003).

Itulah reaksi umum bagi masyarakat yang terbiasa hidup dalam dunia kekerasan, yang hanya mengangkat bahu tatkala menyaksikan sebuah pertunjukan kekerasan baru. Juga rakyat Aceh pada zaman dahulu yang hanya bisa berucap innalillahi wa innailaihi rojiuun tatkala berhadapan dengan korban kekerasan, tanpa kata-kata kutukan dan penyesalan atas aksi kejam itu.

Jika masih memendam anggapan itu, para teroris salah besar. Orang-orang Aceh kini sudah melihat kekerasan sebagai masa lalu. Kekerasan yang hanya menimbulkan pedih-perih kehidupan tanpa harapan masa depan. Rakyat Aceh kini adalah masyarakat yang antikekerasan yang benar-benar menghayati makna kampung halamannya sebagai daarussalaam (pondok damai). Lalu, saya pun teringat seruan Munir, aktivis HAM kita: ”Aku letih dengan kekerasan”. Orang- orang Aceh sekarang tahu betul makna seruan Munir.

Hamid Awaludin Duta Besar RI di Rusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: