Sang Profesor

Urgensi Spiritualitas Fisika untuk Sukses

Posted on: Februari 24, 2010

Oleh Suwandi, MPd
Guru Fisika MAN Yogyakarta III

Hingga kini, pelajaran Fisika (Imam Al-Ghazali menyebut Ath-Thobi’ah ) masih dianggap ‘momok’ dan kurang membumi. Di sisi lain, niat dan semangat belajar siswa kian rendah. Terbukti banyak siswa yang mengeluh saat ada tugas, stres ketika Ujian Nasional (UN), dan panik waktu seleksi masuk perguruan tinggi.

Masalahnya, apa peran Fisika untuk mengatasi rendahnya minat belajar siswa? Mengapa kesan Fisika melangit muncul, padahal Fisika merupakan ilmu alamiah dan sekaligus ilmiah?

Filsuf dan Ilmuwan Peletak Dasar Metode Ilmiah, Galileo Galilei dari Italia (1564-1642), mengatakan, ”Kamu tidak dapat mengajari seseorang apa pun, kamu hanya bisa membantunya menemukan apa yang ada dalam dirinya sendiri.” Bisa jadi, siswa yang bermasalah disebabkan faktor internal.

Apa peran guru Fisika? Bagi siswa kelas awal (kelas X SMA/MA) bisa apriori dengan Fisika karena tak ingin masuk jurusan IPA. Tidak mungkinkah Fisika bermanfaat bagi mereka? Siswa harus dibangkitkan motivasinya dengan menggali nilai spiritual rumus–saya istilahkan ‘Spritualitas Fisika’.

Langkah guru, di samping menjelaskan fisis rumus ‘ritual’, harus mengaitkan dengan makna dalam kehidupan hingga siswa sukses meraih cita. Kata kuncinya: Fisika untuk Semua  (Physics for All) .

Untuk itu, perlu memahami hakikat sains sebab Fisika bagian dari sains. Tujuh ciri sains, menurut Hardy dan Fleer (1996), yakni kumpulan pengetahuan, proses investigasi, kumpulan nilai, cara mengenal dunia, institusi sosial, dan hasil konstruksi manusia, serta sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Adanya nilai spiritual dalam Fisika dapat dilihat pada bukti kian banyaknya istilah Fisika di masyarakat, seperti kecepatan  (velocity) , kelajuan  (speed) , percepatan  (acceleration) , energi, momentum, dan quantum.

Ilmuwan Fisika dan Periset dari Universitas Vienna, Fritjof Capra PhD, yang juga penulis buku  The Tao of Physics menyatakan, dia telah mampu menghubungkan revolusi spiritual dengan karyanya sebagai seorang fisikawan (Fritjof Capra, 2000: xxiii).

Lebih tegas lagi, Dr Osman Bakar dari University of Malaya menyatakan, alam sebagai sumber hukum-hukum Illahi, ada keteraturan dan harmoni. Namun, hukum alam telah kehilangan signifikansi spiritual dan metafisiknya. Dia mengingatkan, perpecahan antara hukum alam dan hukum Tuhan memiliki konsekuensi yang parah bagi kesatuan pengetahuan ilmiah dan spiritual (Osman Bakar, 1995: 82).

Prof Yohanes Surya PhD dalam bukunya  Mestakung, Rahasia Sukses Juara Dunia Olmpiade Fisika (2006:9) menyatakan, seMESTA menduKUNG terjadi di segenap kehidupan, peristiwa pengaturan diri terjadi dalam berbagai gejala sosial. Buktinya ada energi luar biasa saat kondisi kritis.

Lebih teknis, Prof Ir Lilik Hendrajaya MSc PhD saat menjadi rektor ITB membuat analogi: momentum p = m x V menjadi: Prestasi = Potensi x Motivasi. Jika salah satu komponen nol, prestasi akan nol (Lilik Hendrajaya, 1999:26).

Berikut konsep-konsep Fisika sebagai nilai  (value) bagi kehidupan siswa.

1. Quantum
Istilah quantum makin produktif digunakan dalam pembelajaran, seperti  Quantum Learning (QL),  Quantum Teaching , dan  Quantum Ikhlas. Bobbi DePorter dan Mike Hernacki memopulerkannya. Definisi QL adalah interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, sebagaimana persamaan energi, E = mC2. Tubuh manusia merupakan materi. Sebagai pelajar tentu ingin ‘bercahaya’ sebanyak mungkin.

2. Energi Kinetik
Seseorang akan sukses jika mempunyai energi, Energi Kinetik (Ek) dan Energi Potensial (Ep). Dengan Ek = ½ m V2, di mana V adalah kecepatan  (velocity) , harus ada gerakan, tidak diam. Air yang diam akan berbahaya bagi kesehatan, ada jentik nyamuk dan mengotori wadahnya. Lain dengan air yang bergerak.

3. Energi Potensial
Jika tak punya Ek, harus punya Ep = mgh, posisi yang tinggi atau ketinggian h  (height) . Dalam kehidupan sehari-hari, jika punya Ep atau Ek akan menempati posisi yang tinggi.

4. Energi Potensial Elastik
Setiap benda elastik seperti per  (spring) yang ditekan, menimbulkan energi potensial sebanding besarnya kuadrat pemampatan, EP elastik = ½ kx2. Siapa yang berusaha ‘menekan diri’, niscaya menghasilkan kesuksesan luar biasa. Jika proses biasa saja, hasil akan biasa saja. Bila ada usaha luar biasa niscaya hasil akan luar biasa, potensi akan berubah menjadi kompetensi.

5. Tekanan (Hidup)
Persamaan tekanan P  (press) merupakan gaya F  (force) di setiap satuan luas A (area). P = F/A. Dalam diri manusia, jika ‘hati lapang’ niscaya akan berbanding terbalik, tekanan hidup mengecil. Namun, akan sebaliknya jika hati sempit.

Akhirnya disarankan, guru bersama siswa menggali muatan spiritual dalam konsep Fisika. Insya Allah siswa merasakan manfaat belajar Fisika, makin  hands on dan  minds on . Syaratnya, guru memenuhi dua unsur pembelajaran: isi/teks dan konteks  (content & context) .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: