Sang Profesor

Hamka : Hilang Belum Berganti

Posted on: Februari 1, 2010

Hamka: Hilang Belum Berganti

Sebuah seminar tentang Hamka digelar di Malaysia. Ia lebih dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura, dan dunia Islam ketimbang  di tanahnya sendiri,  Indonesia

Oleh: Afriadi Sanusi*

“Hilang belum berganti”,  itulah kalimat yang dapat kita ungkapkan terhadap pribadi Hamka. Kalimat itu diilhami dari sebuah lagu untuk mengenang kepergian P. Ramlee, seorang artis dan aktor Malaysia pada tahun 1950-an.

Sebuah seminar tentang Hamka baru-baru ini, tepatnya 25 Januari 2010 malam, diadakan di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yang dibuka oleh YB Dato` Seri Utama Dr Rais Yatim, seorang Menteri di Malaysia dan dihadiri oleh berbagai ahli akademik dan tokoh lainnya.

Hamka adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Ia seorang ulama, politikus, dan juga sastrawan masyhur Indonesia.

Tidak ada pendewaan, pengagungan terhadap Hamka dalam seminar itu. Semua berjalan realistis dan apa adanya. Rusdhi Hamka, Prof. Dr Yunahar Ilyas, Dr Mochtar Naim umpamanya, lebih banyak menyingkap sisi hidup beliau sebagai manusia biasa dan normal. “Hamka kecil seorang yang “nakal”, malas sekolah, dan sebagainya,” katanya.

Namun menurut Dr Dato` Siddik Fadhil dari UKM, “tidak ada gunanya kita mengecil-ngecilkan orang besar dan membesar-besarkan orang kecil sebab itu hanya akan sia-sia saja, dan sememangnya Hamka adalah seorang tokoh besar yang menjadi kebanggaan orang Melayu.”

Kebesaran Hamka tidak membuat dia sombong dan ingin didewakan. Dia tidak suka orang mencium tangannya, meminum air sisanya, atau menjadikan air cuci kakinya sebagai ajimat, seperti yang sering berlaku pada sebagian orang, akibat belum habisnya pengaruh Siwa-Buddha di alam Nusantara ini. Bahkan dalam beberapa tulisannya Hamka sering mengatakan bahwa dia bukanlah manusia yang sempurna, tambah Mochtar Naim.

Hamka adalah simbol persatuan dunia Melayu yang identik dengan Islam, khususnya Indonesia, Singapura, Brunei, Malaysia. Baginya ukhuwah Islamiyah dan tali persaudaraan di atas segala-galanya. Kalau beliau masih hidup, pasti dia sangat marah di saat dua negara yang notabenenya serumpun, memiliki hubungan persaudaraan yang dekat, dan seagama ini, mau berperang dan berbunuh-bunuhan hanya karena masalah tari pendet dan perkara remeh temeh lainnya.

Hamka dianggap sebagai seorang tokoh pejuang Bahasa Melayu yang menjadikannya sebagai bahasa pengantar dan bahasa ilmu, seperti yang telah dilakukan oleh ilmuwan silam, seperti Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani.

Bahasa Melayu dalam karya Hamka sangat tegas dan jelas, sehingga semua orang Melayu dapat memahami tulisannya. Ini tentu saja berlainan dengan ilmuwan saat ini yang menulis dalam bahasa Melayu Indonesia atau Malaysia yang hanya bisa dipahami oleh orang Malaysia saja atau oleh orang Indonesia saja.

Hamka lebih dikenal di Malaysia, Brunei, Singapura, dan dunia Islam lainnya, dibanding di Indonesia sendiri. Beliau adalah seorang yang kritis terhadap penguasa yang gagal dan zalim. Karya-karya beliau masih menjadi rujukan utama hingga saat ini.

Di masjid, surau, rumah, institusi pendidikan lainnya di Malaysia, kita akan dengan mudah menemukan buku beliau seperti “Tafsir al-Azhar”, “Tasauf Modern” atau novel “Dibawah Lindungan Ka’bah”, dan sebagainya. Bahkan seorang profesor senior di Universiti Malaya pernah mengatakan, “Walaupun sudah berpuluh kali membaca buku “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”, namun saya masih ingin terus membaca, dan membacanya lagi.

Seorang Profesor lain di Universitas Malaya (UM) juga pernah mengatakan, “Saya banyak membaca buku karya Hamka, harapan saya suatu hari nanti bisa menulis sebuah novel sehebat Hamka, tetapi sampai saat ini saya belum mampu melakukannya.”

Sebuah museum Hamka yang memuat berbagai karya dan peninggalan Hamka dapat kita temui di Maninjau Sumatera Barat saat ini. Museum itu terletak di bibir Danau Maninjau yang nyaman, tenang, asri, dan damai, dengan pemandangan dan suasana perkampungan yang menyejukkan jiwa. Walaupun museum itu sederhana, namun saya sangat kagum saat berkunjung pada tahun 2008 lalu.

Namun perlu diingat bahwa di museum, kuburan Hamka, dan ayahnya Dr Abdul Karim Amrullah, tidak ada manusia yang datang berziarah berdoa meminta keberkatan, murah rezeki, dijauhkan dari penyakit, dapat jodoh, apalagi meminta nomor di kuburannya. Barang-barang peninggalannya juga tidak dijadikan ajimat yang diperebutkan dan dikeramatkan. Beliau hanya manusia biasa yang diberi kelebihan oleh Allah, itulah yang tergambar di dalam benak kita di waktu berkunjung ke sana.

Sekitar 300 buku telah beliau tulis dan “Tafsir al-Azhar” adalah karya agung beliau. Tulisannya selaju lidahnya, keras dan tegas. Kalau hitam, tidak dia katakan coklat dan sebagainya. Semua keberhasilan itu beliau hasilkan di balik berbagai tekanan dan keterbatasan keuangan lainnya.

Walaupun saat ini terdapat kemajuan bidang ilmu pengetahuan dengan berbagai kemudahan dari segi pendanaan dari Dikti, FRGS, dan berbagai program pendanaan penyelidikan lainnya, namun seorang pengkaji belum tentu bisa dikategorikan sebagai ahli dalam bidang yang dia kaji, walaupun anggaran pendidikan itu bermilyar-milyar rupiah jumlahnya.

Di zaman keemasannya dahulu, Islam tidak mengenal sistem dikotomi ilmu pengetahuan. Sejarah mencatatkan Ibn Rusyd, Ibn Sina, al-Farabi, Ibn Khaldun, al-Biruni, Muhammad ibn Abi Bakr al-Isfahani, Ibn Nafis, Imam Shuyuthi, dan sebagainya. Namun, mereka menguasai berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan. Hamka adalah termasuk seorang ulama besar Indonesia yang menguasai multi disiplin ilmu pengetahuan, seperti bidang falsafah, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik Islam serta Barat.

Inilah yang membuat kita berdecak kagum dengan Hamka serta mengharapkan lahirnya Hamka-Hamka baru yang mampu mewarnai dan mengubah zamannya dan ratusan tahun setelah kepergiannya. Semoga kehilangan Hamka segera mendapatkan ganti sebagai penerus cita-cita dan perjuangan beliau. Amin. [Kuala Lumpur, 25 Januari  2010/www.hidayatullah.com]

Afriadi Sanusi. Penulis adalah mahasiswa S3 bidang sains politik Islam, pengkaji produk halal Asia Tenggara di Universiti Malaya dan juga pengurus Muhammadiyah Malaysia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: