Sang Profesor

Pemimpin Bertengkar, Rakyat Terlantar

Posted on: Januari 18, 2010

Mas Boy tiba kembali di kompleks setelah liburan di kampung. Tapi, wajahnya tak memperlihatkan kecerahan, layaknya orang habis liburan.

”Sampeyan kenapa sih, Mas?” tanya saya suatu pagi.
”Saya sedih campur bingung. Di kampung malah disambati macem-macem. Ada yang mengeluh karena usaha pengupasan kacangnya (plecet kacang) macet karena pedagang besar di Solo lebih memilih kacang India. Akibatnya banyak warga menganggur. Banyak saudara menyodorkan anaknya untuk dibantu mencari pekerjaan,” kata Mas Boy.


Jeng Kenes yang datang belakangan ikut nimbrung. ”Saudara-saudara saya juga cemas, was-was, deg-deg plas. Jangan-jangan usaha kerajinan mereka, bikin keset dan boneka akan tergusur setelah perdagangan bebas ASEAN-China diberlakukan,” kata Kenes.
Soal kacang India itu, memang belakangan lebih banyak mengalahkan kacang tanah lokal. Sementara ketakutan terhadap produk China pantas dimengerti. Saat melihat-lihat ke sejumlah pusat perbelanjaan di Solo dan sekitarnya, beberapa hari terakhir ini, saya melihat produk mainan anak buatan China menguasai pasar, nyaris sendirian alias tanpa pesaing.
Selain bentuknya bagus-bagus, harganya juga terjangkau. Misalnya ada yang dijual paket Rp 14.000 untuk tiga mainan, di antaranya terdapat handphone (HP) mainan. Soal keamanan, saya sendiri kok sangsi, soalnya cerita dan berita tentang produk mainan anak dari China beberapa kali menghiasi media.
”Lha terus solusinya apa? Soalnya ini erat hubungannya dengan urusan perut. Pasti mereka yang mengeluh itu juga sangat gelisah, nggak tahu lagi mau kerja apa,” kata saya.
”Ya saya belum punya solusi. Kebanyakan dari mereka lulusan SMA yang belum siap kerja. Saya ajak berpikir tentang wiraswasta malas. Menjadi pekerja informal malu. Sebelnya, kebanyakan dari mereka kemana-mana sudah bawa HP,” jelas Mas Boy.
Sebenarnya wiraswasta atau enterpreneur seperti yang dikatakan Mas Boy itu, salah satu solusi yang menarik dan jika dikembangkan berpotensi mengurangi pengangguran secara signifikan. Selebihnya, tenaga kerja kita sebagian mulai membidik pekerjaan di luar negeri, bertarung menjadi PKL di kota, melamar kerja swasta atau bermimpi menjadi PNS..
”Tapi sepertinya kita yang muda-muda ini yang harus turun tangan mengurai kegelisahan saudara-saudara kita itu,” Jeng Kenes mulai antusias.
Berebut kebenaran
Kata Jeng Kenes lagi, kalau menunggu pemerintah bergerak taktis dan tepat sasaran, rasanya belum tentu. ”Lihat saja, para pemimpin, para elite saban hari bertengkar meributkan Bank Century. Petinggi polisi saling ribut soal kode etik, para koruptor berpesta di penjara, akhirnya rakyat telantar, sendirian tanpa pegangan mengurus hidup yang kian sulit. Sebagian rakyat berebut kebenarannya sendiri-sendiri di jalanan.”
Saya dan Mas Boy mau tak mau ikut terbawa jago debat kita yang satu ini. Sayang, kemarin dia gagal lolos tes CPNS.
”Kan sama-sama berebut kebenaran to, Nes,”kata saya. ”Yang di Gedung DPR itu mereka juga ribut karena masing-masing merasa benar. Yang di jalan juga begitu. Kasus yang dialami Lanjar itu misalnya, terjadi karena dia kalah suing saat mempertahankan kebenarannya.”
Mas Boy menambahkan, karena penegakan hukum yang lemah, diskriminatif dan inkonsisten, di masyarakat berlaku rumus asu gedhe menang kerahe. Nah, kalau yang di Gedung DPR itu mungkin bisa berlaku rumus dua gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah. Pemimpin bertengkar, rakyat telantar,”ujar Mas Boy.
”Kalau nggak segera diatasi, bisa-bisa rakyat kecil terkapar,”saya menambahkan.
Jeng Kenes mengacungkan tangannya, biasanya itu awal dari pidato panjang berikutnya.
”Seharusnya ada pemimpin yang mengambil alih semua tontonan yang nggak perlu ini. Masak anggota DPR ngomong “b*****t” dan “setan” saat sidang. Ada ungkapan, the leader takes all, pemimpin sejati harus pasang badan, atas kasus yang menimpa anak buahnya, mengarahkan proses pencarian kebenaran atau fakta agar lebih sederhana, lebih produktif, lebih cepat selesai, tidak berlarut-larut seperti ini.”
Orang-orang di rumah Kenes sampai keluar rumah, tapi kemudian tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Saya dan Mas Boy juga ikut geleng-geleng kepala.
Kemarin di kompleks seorang ibu paruh baya menggendong anak kecil mengetuk pintu rumah-rumah warga, menjadi peminta-minta. Seorang anaknya (atau anak tetangganya) lebih dulu beredar menadahkan tangan.
Mereka yang memburu sesuap nasi untuk sekadar makan, juga sedang memperjuangkan kebenaran. Kebenaran paling hakiki, yakni bahwa orang hidup harus makan.

– Oleh : Suwarmin, Station Manager Star Jogja FM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: