Sang Profesor

Mencegah Kebiasaan Cramming

Posted on: Januari 18, 2010

Rabu, 13 Januari 2010 pukul 13:43:00

Oleh Uus Firdaus, SPd
Guru Pembimbing di SMPN 1 Paseh,
Kab Bandung, Jawa Barat.

Mendekati masa-masa ujian, biasanya para siswa banyak disibukkan dengan kegiatan persiapan menghadapinya, apalagi ujian nasional (UN) yang sangat menentukan untuk kelanjutan sekolah. Memasuki masa ujian ini, banyak pelajar yang mendadak rajin.

Mereka banyak yang begadang semalam untuk menghafal materi pelajaran yang bertumpuk. Cara atau metode belajar seperti ini banyak dikenal dengan istilah ‘SKS’—plesetan dari sistem kebut semalam atau sistem kerja sangkuriang. Cara atau metode belajar yang dilakukan secara tergesa-gesa, dalam waktu yang singkat dan jumlah pelajaran yang banyak, disebut dengan istilah cramming.

Menurut kamus Inggris-Indonesia, istilah ini berasal dari kata cram yang artinya menjejalkan atau memasukkan dengan paksa atau dapat juga diartikan belajar yang tergesa-gesa (dipompa). Metode ini sering digunakan, terutama jika waktu ujian sudah mepet, namun materi yang harus dibaca begitu banyak.

Teknik ini sekali-kali memang dapat digunakan apabila waktu yang dibutuhkan sangat mendesak, dalam keada an mendadak, atau darurat ( emergencies) dan adanya tuntutan untuk menguasai secara cepat materi yang jumlahnya banyak dengan waktu relatif singkat. Namun, jika para pelajar menjadikan teknik ini satu-satunya cara dalam belajar, salah satu andalan dalam belajar, atau menjadi satu kebiasaan dan tradisi yang melekat dalam proses belajar, teknik ini menjadi tidak baik.

Mengapa teknik ini kurang baik? Sebab, teknik ini memiliki banyak kelemahan, di antaranya:

Pertama, hasil belajar mudah terlupakan. Hasil belajar dengan teknik ini tidak tahan lama, sebab setelah ujian berakhir, materi yang telah dipelajari biasanya ikut hanyut terbawa lepasnya beban yang mengimpit dalam menghadapi ujian.

Kedua, kekacauan dalam penguasaan bahan pelajaran. Materi pelajaran yang telah dipelajari karena ditumpuk dan dipaksakan untuk diingat, maka materi yang satu dengan yang lainnya akan saling bertumpuk dan saling mengalahkan. Informasi yang pertama dapat diingat, namun informasi yang lain lupa karena tertumpuk informasi yang baru. Karena itu, tidak mengherankan apabila hasil belajar yang dicapai mengalami kekacauan, sering keliru, tertukar atau terbaik, tidak jelas, meragukan, dan sering salah tangkap.

Ketiga,
penguasaan pengetahuan yang tidak mantap. Artinya, hasil belajar yang instan biasanya hanya garis besarnya. Untuk sekadar tahu dapat dila kukan, namun untuk memberikan penjelasan secara mendetail (lengkap) biasanya sulit untuk dilakukan.

Keempat, hasil yang diperoleh kurang maksimal, kurang memuaskan, dan sering diiringi dengan perasaan menyesal. Meskipun nilai yang diperoleh cukup baik, namun perasaan menyesal sering muncul. Sebab, seandainya persiapan yang dilakukan lebih baik mungkin hasil yang diperoleh dapat lebih baik lagi. Kelima, proses belajar yang dipaksakan sering memberikan efek samping yang kurang baik pada kesehatan.

Apalagi, kalau kegiatan ini dilakukan dalam waktu satu minggu berturut-turut. Orang yang memaksakan diri untuk belajar terus-menerus atau belajar semalam suntuk, sering merasakan pusing, sakit kepala, panas dingin, sakit mata, lelah, mengantuk di siang hari, bahkan dapat saja terjadi pingsan karena kondisi fisik yang lemah.

Upaya pencegahan
Karena kebiasaan cramming itu tidak baik, alangkah baiknya para pelajar berusaha untuk menghindari kebiasan yang kurang baik dalam belajar. Sebab, pada dasarnya cramming banyak dilakukan pelajar diawali dengan kebiasaan buruk, yaitu kebiasaan menunda-nunda belajar. Mereka banyak menunggu waktu ulangan dan ujian sudah dekat. Apabila tinggal satu hari lagi, baru berusaha untuk belajar.

Akibatnya, mereka terpaksa melakukan proses belajar secara mendadak. Mengembangkan kebiasan belajar yang baik dan teratur seyogianya dilakukan para pelajar. Dengan kebiasaan belajar yang baik, proses belajar akan dirasakan efektif dan efisien dan juga hasil belajar yang diperoleh relatif memuaskan. Selain itu, dengan melakukan kebiasa an yang baik, kebiasaan cramming dengan sendirinya tidak akan dilakukan. Dengan demikian, proses belajar mengajar yang diberikan kepada siswa tidak sekadar memberikan informasi semata.

Membimbing anak agar mengetahui bagaimana cara belajar yang baik, efektif, dan efisien serta mampu memotivasi mereka agar belajar secara sungguhsungguh sehingga proses belajar yang dilakukan tidak hanya yang terjadi di dalam kelas semata dan waktunya terikat dengan jadwal yang sudah ada, salah satu caranya yakni seluruh kehidup annya dijadikan waktu untuk belajar.

Para siswa terus-menerus dimotivasi untuk belajar dengan baik. Mereka pun dibimbing untuk memiliki tujuan belajar yang jelas, merencanakan dan menjadwalkan kegiatan belajar secara teratur, melakukan proses pengulangan terhadap materi yang telah dipelajari, melakukan latihan, berdiskusi, saling tukar pendapat, memecahkan masalah, dan menjaga kondisi serta kesehatan fisik dalam belajar.

Selain itu, perlu ditanamkan pula dalam diri para pelajar bahwa keberhasilan belajar bukan sekadar untuk menghadapi ujian dan bukan sekadar mendapatkan nilai lulus dalam ujian. Namun, harus lebih luas dari itu. Kompetensi yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor yang dimiliki perlu mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Dari yang miskin pengetahuan diharapkan menjadi lebih kaya dengan berbagai wawasan dan pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: