Sang Profesor

Memperjuangkan Guru Melalui Organisasi Profesi

Posted on: Januari 18, 2010

Oleh AJENG KANIA

“Mutu pendidikan, kualitas, dan kesejahteraan guru tidak pernah berubah jika masyarakat dan guru itu sendiri tidak memperjuangkannya.”
(Dr. Sulistiyo, M.Pd. – Ketua Umum PB PGRI)

PEKERJAAN guru sebelum Perang Dunia II adalah pekerjaan tertinggi untuk orang Indonesia, mulia, pandai, kaya, dan terhormat. Dengan gajinya, guru saat itu mampu memiliki pembantu, rumah bagus, dan bisa bepergian di musim liburan. Satu kisah kesaksian seorang guru baheula di Semarang saat diwawancarai seorang antropolog, Walter Williams (1988) dalam buku Pendidikan Manusia Indonesia, (2004: 169).

Konsentrasi pembangunan yang lebih bertumpu kepada bidang ekonomi membuat kita lengah memprioritaskan bidang pendidikan, terutama membangun aspek manusia. Dalam konteks ini, penghargaan masyarakat terhadap seseorang pun berubah. Mereka yang bergelimang materi cenderung dihormati dan dihargai. Pada kondisi ini, predikat guru tak ubah layaknya karyawan pabrik atau orang bayaran, dibayar karena mengajar siswa. Kecilnya penghasilan guru dapat dibandingkan, perhitungan satu jam ekuivalen dengan empat kali (jam) pertemuan (satu bulan). Citra guru sedemikian melorot, menjadikan profesi guru tidak menarik minat anak-anak muda.

Mengapa profesi guru tertinggal dari profesi lain? Padahal jumlah guru di Indonesia cukup besar, sekitar 2,7 juta. Salah satu faktor penyebabnya adalah militansi guru dalam mengkritisi dan memperjuangkan nasibnya masih lemah. Kesadaran berserikat (berorganisasi) yang rendah berdampak profesi ini mudah dipengaruhi, ditekan, atau dijadikan objek kepentingan tertentu.

Hal ini tentu tak akan terjadi apabila guru bersatu padu, solid, dan memiliki solidaritas tinggi sehingga memiliki organisasi profesi yang kuat, berwibawa, dan profesional. Organisasi kuat dapat dijadikan sebagai pressure power (kekuatan menekan), thinking power (kekuatan pemikiran), dan control power (kekuatan pengendalian) sehingga memiliki posisi tawar (bargaining position).

Sesuai dengan UU Guru dan Dosen (UUGD), kehadiran organisasi profesi mutlak diperlukan sesuai dengan amanat pasal 41 (3). Organisasi dibutuhkan guru untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengadilan kepada masyarakat. Bergabungnya guru dalam organisasi profesi memungkinkan guru memiliki kode etik sebagai standar perilaku ideal untuk memberi perlindungan dalam mewujudkan profesionalitas dan bekerja dalam suasana aman dan kondusif.

Meskipun sukses membidani kelahiran UUGD, PGRI sebagai organisasi guru terbesar dan tertua di Indonesia tak luput dari ragam tantangan. Jalan mewujudkan guru profesional, sejahtera, dan bermartabat baru menginjak tahap awal. Problematika akibat minimnya penghasilan guru masih membelenggu karena sudah menjadi potret kehidupan guru selama bertahun-tahun. Banyak guru belum memiliki rumah tinggal layak; kesulitan memiliki sarana penunjang tugas, seperti kendaraan, buku, komputer/laptop; tidak memiliki waktu luang untuk belajar, studi, dan pontang-panting ketika harus menyekolahkan anak-anaknya.

Kiranya perlu terobosan berbasis pelayanan untuk membebaskan sekaligus mendekatkan organisasi dengan anggota. Citra dan martabat guru tak bisa lepas dari performa kehidupan di tengah masyarakat. PGRI dapat mendorong dan memfasilitasi dengan cara membuat format dan skema tertentu dengan pihak pengembang sehingga memungkinkan guru-guru mudah mendapatkan hunian layak. Begitu pula kerja sama dengan dealer dapat diringankan kepemilikan kendaraan minimal sepeda motor untuk menjangkau tempat tugas jauh dan terpencil. Sementara pendidikan anak-anak guru dijamin dengan pola asuransi semacam askses.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS 13:11). Dengan menggunting simpul bermasalah, bukan saja membebaskan namun memberi secercah harapan bagi guru menikmati kehidupan lebih bermartabat. Dirgahayu PGRI! Selamat ulang tahun guru Indonesia!***

Penulis, guru SDN Taruna Karya 04 Cibiru Bandung, pengurus AGP-PGRI Provinsi Jabar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: