Sang Profesor

Hipotesa dan Teori Kemunculan Agama

Posted on: Januari 13, 2010

Kenapa orang harus beragama? Kenapa orang harus bertuhan?, merupakan pertanyaan paling lama yang pernah dilontarkan orang, sekaligus paling menggoda pikiran manusia. Pertanyaan ini telah dibahas dan dijawab oleh para pemikir, baik yang simpati maupun yang antipati terhadap agama. Paling tidak, ada empat hipotesa yang sampai sekarang terus menjadi diskursus banyak kalangan.

Terdapat hipotesa-hipotesa yang berbeda seputar kelahiran agama pada umumnya. Ada hipotesa yang mengatakan bahwa agama adalah produk alienasi diri dan kemerosotan sosial. Hipotesa lain mengatakan bahwa agama muncul dari kelemahan dan ketidakberdayaan manusia. Hipotesa ketiga mengatakan bahwa rasa takut melahirkan agama. Sedangkan yang lain meyakini bahwa agama lahir karena terbentuknya kelas-kelas dalam masyarakat.

Hipotesa-hipotesa tersebut akan kita analisa, selanjutnya akan kita kritisi dengan pandangan dan teori-teori Islam tentang kemunculan agama. Selanjutnya kita nilai, apakah hipotesa tersebut layak untuk disebut sebagai sebuah teori sekaligus keyakinan.

1. Hipotesa Alienasi Diri

Di Eropa, muncul disiplin ilmu yang disebut “sosiologi agama”, yang dibangun atas anggapan bahwa agama merupakan suatu objek dan produk dari interaksi-interaksi sosial. Artinya, sejak semula para ahli sosiologi agama menjauhkan kemungkinan-kemungkinan adanya sesuatu yang memiliki akar-akar Ilahiah dan hal-hal yang supra-natural dalam agama.

Orang yang pertama melakukan studi sistematis dan analitis sosiologis setelah para filosof yang menamakan diri Neo-Hegelian mengenai lahirnya agama kristen dan agama-agama lain, adalah Ludwig Feuerbach dan Emelie Durckheim.

a. Ludwig Feuerbach

Ludwig Feuerbach -sosiolog Jerman- melihat agama sebagai sejenis alienasi. Ia meyakini bahwa dengan maju dan berkembangnya pengetahuan menusia, dan dengan kembalinya manusia pada dirinya, maka dengan sendirinya persoalan agama akan terangkat dan agama akan ditinggalkan.

Sosiolog ini berpendapat bahwa manusia mempunyai dua eksistensi. Pertama; eksistensi luhur yang mencintai, mencari dan melakukan kebaikan. Kedua; eksistensi rendah dan dangkal. Seterusnya, dia melihat bahwa manusia, dalam kondisi di mana dia berada, selalu melahirkan dualisme dalam kepribadiannya. Perlu digaris bawahi bahwa sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik tersebut sebagai sesuatu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia.

Feurbach mengatakan bahwa manusia mempunyai eksistensi seperti itu ketika dia berada dalam suatu komunitas. Di bawah tekanan-tekanan yang ada di sekitarnya, manusia cenderung melakukan pengkhianatan dan perbuatan-perbuatan rendah. Sesudah manusia mengalami frustrasi dalam upaya mempertahankan eksistensi luhurnya di bawah tekanan-tekanan kondisi di sekitarnya, maka dia bergerak mengikuti eksistensinya yang kedua (eksistensi rendah), dan melihat eksistensinya yang pertama (eksistensi luhur) dengan pandangan khayali, dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang utopis.

Artinya, kepribadian yang dikatakan sebagai sesuatu yang terdapat dalam diri manusia dan kepadanya diletakkan karakteristik-karakteristik seperti itu; dilepaskan dari dirinya dan diberi predikat  “utopia”. Sesudah  itu, manusia segera menjauhinya sembari mencari-cari alasan menjustifikasi tindakannya itu.

Artinya, segala hal yang seharusnya dilakukan di hadapan Tuhan, ternyata dia lakukan di hadapan kepribadian yang telah dia tanggalkan dari dirinya. Sesudah itu, Feurbach menyinggung masalah Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus, lalu mengatakan bahwa doktrin ini merupakan produk dikotomi yang ada dalam diri manusia –sesudah melepaskan dari dirinya hal-hal yang seharusnya dia lakukan- memberinya predikat sebagai hal-hal yang imaginatif belaka.

Feuerbach meyakini bahwa pada awalnya dan di lingkungan komunitas-komunitas manusia primitif, kecendrungan tersebut sangat kuat, dan kemudian sedikit demi sedikit menurun sejalan dengan perjalan manusia. Untuk mendukung hipotesa tersebut, ia mengemukakan dalil seperti yang dikemukakan dalam hubungannya dengan agama kristen. Ia mengatakan bahwa pada fase ini kita melihat bahwa manusia sudah sampai pada satu tahapan yang di situ ia menjadikan Tuhan sebagai semata-mata manusia yang mengenakan pakaian ketuhanan dan dimiripkan dengan-Nya.

Kemudian Feurbach mengingatkan fase selanjutnya, dengan mengatakan bahwa selanjutnya “Tuhan” tersebut akan menanggalkan pakaian ketuhanannya. Jika hal itu terjadi, maka saat itu merupakan akhir ketercengkraman manusia dari dualisme kepribadiannya. Saat itu, manusia akan mengetahui siapa dirinya dan kembali kepada dirinya.

b. Emelie Durckheim

Durckheim yakin sepenuhnya bahwa masyarakat adalah himpunan hakiki dari individu-individu, dan himpunan tersebut bukan bersifat anggapan semata. Himpunan yang bersifat anggapan (subjektif) adalah himpunan benda-benda yang kepribadiannya berakhir  pada kepribadian keseluruhan (himpunan). Jika kita, misalnya, mempunyai beberapa batang pohon di suatu kebun, maka himpunan pohon itu kita sebut sebagai “kebun”. Tetapi sebutan “kebun” tidak kita gunakan untuk satu batang pohon, dan setiap bagian dari kebun tersebut mempunyai kepribadian tersendiri. Kalau seandainya suatu pohon tidak berada di dalam kebun, maka ia tetap disebut pohon. Inilah yang disebut dengan himpunan subjektif.

Tetapi dalam himpunan hakiki, kepribadian satuan-satuan terserap dalam kepribadian himpunan. Artinya, satuan-satuan itu tidak lagi mempunyai bentuk yang tetap, dan kehilangan jati-dirinya semula, lalu memperoleh jati-diri baru yang merupakan jati diri kelompok. Misalnya, senyawa kimia atau alam. Semua senyawa alam termasuk dalam kategori ini.

Jika kita menganggap air sebagai suatu komposisi, maka ia terdiri dari dua unsur yang berbeda, yang substansinya telah berubah menjadi substansi yang lain. Artinya oksigen yang ada dalam air tersebut bukan lagi berbentuk “oksigen”. Sementara itu, hidrogen tidak pula dapat mempertahankan karakteristik dirinya dalam air tersebut. Keduanya telah bersenyawa satu sama lain, dan berubah menjadi substansi yang lain. Hal yang sama dikatakan berlaku pada masyarakat manusia.

Individu-individu, dilihat dari aspek spiritual, psikologis dan kultural, mirip dengan air. Mereka mempengaruhi satu sama lain, seperti oksigen dan hidrogen yang mengalami persenyawaan. Keduanya saling mempengaruhi, dan sesudah mengalami kontak satu sama lain, keduanya berubah menjadi sesuatu yang baru. Demikian pula yang terjadi pada individu-individu dalam masyarakat; masing-masing saling mempengaruhi, dan dari himpunannya  muncullah komposisi hakiki yang namanya suku atau bangsa.

Dengan demikian, manusia -secara kultural- mempunyai dua wujud”; wujud individual dan wujud soaial. Seperti halnya oksigen dan hidrogen dalam air, yang pada tingkat tertentu merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada tingkat lain adalah air. Satuan masing-masing masih tetap ditemukan dalam air. Kalau sekiranya masing-masing oksigen dan hidrogen tersebut dapat merasakan zat dirinya secara terpisah, yakni bahwa yang ini hidrogen dan yang itu oksigen, lalu masing-masing juga merasakan diri mereka sebagai sesuatu yang satu, yaitu air, tentunya keduanya mempunyai dua substansi; substansi individual dan substansi sosial.

Ini merupakan prinsip-prinsip umum yang terdapat di dalam pendapat-pendapat Durckheim.

2. Hipotesa Ketidaktahuan Manusia

Sesudah Feuerbach, tampil sarjana-sarjana lain satu demi satu. Mereka mengemukan kepercayaan-kepercayaan yang lebih sistematis di luar sejarah filsafat, serta menaruh perhatian yang lebih besar terhadap angka-angka dan statistika. Tetapi para tokoh yang paling terkemuka di antara mereka adalah orang-orang yang mengatakan bahwa agama merupakan produk ketidaktahuan manusia.

Orang-orang yang berpendapat bahwa agama merupakan produk ketidaktahuan manusia, mengemukakan hipotesanya dengan dua cara. Pertama, metode yang dikemukakan oleh August Comte, dan kedua cara yang ditempuh oleh Herbert Spencer dan kawan-kawannya yang memiliki dua aliran.

Menurut mereka, ketika manusia zaman dahulu berhadapan dengan fenomena-fenomena alam, melihat api yang membakar, halilintar yang menyambar dan lain-lain. Lalu karena ketidakberdayaannya, mereka memerlukan senjata yang dapat digunakan untuk menghadapi ancaman alam, dan karena itu pulalah mereka mencari sebab-sebab dari fenomena alam tersebut.

Ketika manusia tidak dapat menemukan sebab-sebab yang ada di balik fenomena alam tersebut, dan tidak berhasil menemukan sebab-sebabnya yang hakiki, misalnya mengenai halilintar yang menyambar-nyambar di langit dan menyebabkan terjadinya kebakaran di bumi dan lain-lain sebagainya, maka manusia menganggap bahwa fenomena alam tersebut mempunyai jiwa (ruh). Selanjutnya, mereka menjadikan ruh tersebut sebagai Tuhan.

Tentang fase-fase sejarah yang dilalui manusia, August Comte mengatakan bahwa ketika ilmu pengetahuan semakin maju, dan pengetahuan manusia tentang sebab-sebab yang ada di balik fenomena-fenomena alam tersebut semakin berkembang, maka jumlah “tuhan-tuhan” mereka semakin berkurang. Artinya, ketika fenomena alam yang tidak diketahui sebab-sebabnya masih banyak, maka manusia menciptakan -dalam pikirannya- “tuhan-tuhan” yang dianggapnya sebagai penyebab terjadinya fenomena alam tersebut. Ketika pengetahuan semakin meningkat dan mereka mampu menghubungkan sebagian fenomena alam tersebut dengan sebab-sebabnya yang hakiki, lalu membuat generalisasi antara berbagai fenomena yang dia lihat mirip satu sama lain, maka sedikit demi sedikit berkuranglah jumlah “tuhan” mereka. Akhirnya, mereka sampai pada Tuhan yang satu. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan manusia, bisa jadi Tuhan yang satu itu pun akhirnya mereka singkirkan.

Sedangkan Herbert Spencer dan kawan-kawannya menganalisa dengan cara lain. Mereka mengatakan bahwa sejak awal manusia sudah mempunyai keyakinan tentang dualisme dirinya, yakni dualisme ruh dan jasad, artinya, manusia mempunyai ruh dalam dirinya. Kemudian mereka memberlakukan secara umum konsep tersebut pada semua benda, yakni adanya ruh pada semua benda.

Demikian pula halnya ketika mereka berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang berbeda-beda. Dia mengatakan bahwa laut, angin puyuh dan matahari mempunyai ruh. Setiap kali mereka menghadapi berbagai bencana alam, manusia pun mempersembahkan sesajian -seperti yang mereka lakukan ketika menghadapi orang yang lebih kuat dari dirinya- bernazar dan sebagainya. Itu pulalah yang manusia lakukan ketika menghadapi kekuatan alam, yakni melakukan peribadatan.

3. Hipotesa Dialektika Ekonomi

Kaum marxis mengatakan bahwa faktor ekonomi merupakan faktor yang menyebabkan manusia terdorong untuk beragama, sekalipun terdapat pendapat-pendapat lain yang mirip dengan pendapat mereka. Pandangan yang dikemukakan kaum Marxis terbentuk dari prinsip-prinsip umum filsafat dan teori mereka tentang sejarah dan masyarakat.

Marxisme berpendapat bahwa seluruh gerakan sejarah dan evolusi sosial mempunyai akar yang bersifat ekonomi. Artinya, kondisi ekonomi suatu masyarakat dapat merubah infrastruktur manusia tersebut, misalnya agama, seni, hak-hak, undang-undang, etika, dan segala sesuatu yang memiliki infrasturktur.

Kaum Marxis membagi dunia dalam lima periode, serta mengatakan bahwa setiap periode mempunyai agama, seni, dan undang-undang yang khas baginya. Seperti itu pulalah pandangan mereka tentang agama.

Hipotesa yang pertama mengatakan bahwa agama merupakan sesuatu yang diciptakan oleh kelas penguasa untuk menjinakkan kelas yang dikuasai. Artinya, agar kelas yang menguasai budak dapat membungkam protes para budak, dan kaum feodal tidak ditentang para petani, serta kaum borjuis tidak direpotkan oleh kaum proletar dan dapat mencegah pemberontakan mereka, maka kelas-kelas penguasa itu harus menciptakan suatu faktor yang dapat mengendalikan keadaan agar tidak bergolak. Faktor itu tak lain adalah agama. Jadi, mereka harus menciptakan  agama yang dapat memaksa kelas-kelas tertindas agar tetap rela menerima perlakuan kaum penindas. Sebab kondisi seperti itu tercipta atas kehendak dan takdir Tuhan, dan bahwa kondisi yang demikian itulah yang dikehendaki oleh Tuhan.

Karena adanya orang kaya dan miskin sudah merupakan sesuatu yang alami. Dengan begitu, yang menciptakan agama adalah kelas penguasa guna melindungi kepentingan kelas-kelas tententu dalam masyarakat, yaitu kelas-kelas yang menciptakan “candu” yang mereka berikan kepada orang-orang yang mereka tindas. Ungkapan yang berbunyi, “Relegion is the opium of the peoples” adalah kesimpulan dari teori ini. Ungkapan tersebut merupakan salah satu ungkpan tegas yang digunakan oleh Marx dalam bukunya yang berjudul The Holy Family, yang mengupas ajaran-ajaran agama katolik. Marx mengatakan:

Prinsip-prinsip sosial agama katolik membenarkan  peribadatan kuno, dan memuji hubungan para petani dengan pemilik tanah yang berlaku pada abad pertengahan, dan mempekernalkan, jika perlu bagaimana caranya mendukung penindasan kelas proletar dengan bujuk rayu. Prinsip-prinsip sosial agama Katolik menciptakan landasan-landasan untuk mempertahankan adanya kelas penguasa dan kelas tertindas, Prinsip-prinsip sosial agama Katolik menegaskan dan menciptakan semua sifat rendah: rendah diri, ketidak berdayaan, hilang semangat, tunduk dan rendah hati. Sedangkan kelas proletar menentang semua itu, dan semangat membutuhkan keberanian, kehormatan diri, martabat, dan cinta kebebasan, lebih dari kebutuhan mereka terhadap roti. Prinsip-prinsip sosial agama Katolitk bersifat destruktif, sedangkan kelas proletar bersifat revolusioner.

Sebenarnya terdapat banyak pendapat yang secara umum berkaitan dengan masalah agama yang terdapat dalam buku yang berjudul Marx and Marxianisme, yang merupakan kumpulan tulisan Karl Marx, Lenin, Stalin dan tokoh-tokoh lainnya:

Haruslah dilakukan propaganda yang sistematis, ilmiah, dan menyeluruh, untuk menjauhkan masyarakat dari beribadah kepada Tuhan. Kita wajib menjelaskan ketidakbergunaan kepercayaan kepada agama yang pada masa lalu merupakan produk tiga hal: ketidak berdayaan manusia menghadapi alam, pertarungan sosial, dan ketidaktahuan manusia tentang sebab-sebab yang terdapat pada fenomena-fenomena alam dan sosial.”

Ada lagi pendapat sebaliknya dari kaum Marxian, bahwa kelas tertindaslah menciptakan agama untuk diri mereka sendiri, agar mereka tidak tersiksa oleh kesewenang-wenangan dan penindasan yang mereka alami, maka para ulama kelas tertindas ini menciptakan agama untuk diri mereka sendiri.

Analisa dan Kritik

1. Hipotesa Alienasi Diri

Masalah alienasi dalam filsafat Barat untuk pertama kalinya dikemukan oleh Hegel. Pengertian filsafatnya adalah terbentuknya unsur-unsur yang selanjutnya membuat manusia teralienasi dari dan bersama dirinya. Timbul pertanyaan, mengapa manusia bisa mengalami alienasi dari dan bersama dirinya?  Apakah itu mungkin? “keterasingan”, sebagaimana halnya dengan “keakraban” yang menjadi lawannya, mengharuskan adanya dua pihak sedangkan manusia, pada dasarnya, hanya mempunyai satu pihak. Jadi bagaimana mungkin dia bisa teralienasi dari dirinya? Ini berarti bahwa manusia mencampurkan antara dirinya dengan selain dirinya.

Dalam perspektif filsafat, sangatlah sulit mendeskripsikan kondisi tersebut. Sebab, pengetahuan manusia tentang dirinya adalah pengetahuan hudhuri (knowledge by presence). Ilmu hudhuri tidak mungkin tersentuh lupa, sedang ilmu hushuli (ilmu yang diperoleh melalui proses belajar, acquired knowledge) adalah ilmu yang dapat disentuh oleh lupa. Dengan demikian, pada intinya manusia adalah “ilmunya tentang dirinya”.

Yang mengherankan adalah, tanpa terlebih dahulu melakukan kajian seputar “diri” manusia dan tanpa memahami konsep tentang “diri”, Feuerbach langsung berbicara tentang “keterasingan”. Bahkan para filosof Materialistis tersebut menolak eksistensi “diri”. Mereka mengatakan bahwa persoalan “diri” bersifat anggapan dan ia merupakan konsep yang bersifat “tarikan”, dalam arti adanya serangkaian persepsi yang muncul dalam pikiran, lalu muncul anggapan bahwa ada “diri” dalam makhluk ini. Pada satu sisi, filsafat kaum Materialis dibangun atas anggapan tentang tidak adanya “diri” apapun, dan pada sisi yang lain mereka merajut suatu filsafat tentang keterasingan “diri”.

Feuerbach melakukan kekeliruan dengan berusaha menganalisis agama dengan menggunakan analisi psikologis dan analisis sosiologis dengan menyandarkannya pada asumsi bahwa agama tidak memiliki landasan logis.

Ia juga mengatakan bahwa ketika pengetahuan manusia tentang dirinya semakin meningkat, maka dia tidak lagi membutuhkan asumsi tentang eksistensi Tuhan. Pada saat pengetahuannya tentang dirinya telah sempurna, maka tidak ada lagi tempat bagi agama. Ketika itu, manusia sudah menyembah dirinya sebagai ganti dari menyembah Tuhan.

Salah satu segi yang meruntuhkan hipotesa ini adalah, pertama-tama kita katakan kepada Feuerbach, “sepanjang Anda tidak meyakini adanya Tuhan, dan memandang manusia sebagai makhluk materi seratus persen, lantas dari mana Anda memperoleh konsep tentang dualisme dan dikotomi manusia seperti itu, dan bagaimana pula Anda menafsirkan eksistensi dualisme tersebut? Hanya agamalah yang dapat menafsirkan dualisme itu. Sebab, agama menganggap menusia sebagai makhluk yang tersusun dari hakikat tanah dan hakikat malakut (metafisika) . Tetapi Anda, sebagai seorang materialis, bagaimana mungkin dapat menafsirkan hal itu?”

Kedua, kalaupun kita terima filsafat tersebut, maka kita harus mengakui bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang tetap berada dalam kemuliaan dan kebaikan yang asli. Sebab, filsafat tersebut mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang dualistik. Kemudian dia mengalami kemerosotan dalam kehidupan sosialnya, dan terjerumus ke dalam sisi rendahnya, yakni jurang hewani; lalu dia melepaskan sisi luhurnya, dan akhirnya menciptakan agama yang dia anut.

Kesimpulannya, pertama-tama kita harus menganggap seluruh manusia telah terjatuh ke dalam sifat-sifat hewaninya. Seterusnya, kita kita harus menganggap bahwa mereka itu jatuh sebagai makhluk-makhluk yang beragama. Tetapi -pada kenyataannya- kita melihat manusia terbagi menjadi dua: satu kelompok terdiri dari orang-orang yang selamanya berada dalam kemuliaan dan jati diri kemanusiaannya, dan kelompok lainnya terdiri dari orang-orang yang terjerumus ke dalam sifat-sifat hewaninya.

Mari kita lihat orang-orang yang cenderung pada agama. Apakah orang-orang yang perpegang teguh pada agamanya itu adalah individu-individu yang masih memiliki jati diri kemanusiaannya, ataukah orang-orang yang telah terjerumus ke dalam sifat-sifat hewaninya? Tidak diragukan sedikit pun, bahwa orang-orang yang memiliki jati diri kemanusiaannya adalah orang-orang yang beriman kepada Tuhan dan meyakini kebenaran dan orisinalitas agamanya. In any case, teori Feuerbach tersebut telah gugur.

2. Hipotesa Ketidaktahuan Manusia

August Comte melihat pada sebab-sebab berbagai peristiwa. Dia ingin mengatakan bahwa manusia telah menerima prinsip kausalitas. Tetapi, karena manusia zaman dahulu belum mengetahui sebab-sebab hakiki yang ada di balik peristiwa-peristiwa alam tersebut, maka mereka menisbahkan fenomena-fenomena tersebut kepada makhluk-makhluk gaib, yakni pada dewa-dewa dan sejenisnya. Comte melihat bahwa fase tersebut merupakan salah satu fase peradaban manusia.

Berdasarkan hipotesa mereka, maka dengan semakin hilangnya kebodohan, atau karena diketahuinya sebab-sebab yang ada di balik fenomena-fenomena atau dengan diketahuinya bahwa benda-benda tersebut tidak mempunyai ruh, dan bahwa daratan, lautan dan hujan juga tidak mempunyai ruh, dan adanya ruh justru diragukan, maka tidak ada lagi alasan untuk berbicara tentang Tuhan, juga tentang ibadah. Sebab, semua itu merupakan hal-hal yang bertentangan dengan kemajuan sains dan ilmu pengetahuan modern.

Di antara bukti-bukti yang dikemukan oleh pendapat yang mengatakan bahwa eksperimen telah membuktikan hal yang sebaliknya, adalah bahwa kita tidak melihat perbedaan antara agama yang dianut oleh orang-orang primitif dengan agama yang dianut oleh orang-orang pandai. Yakni, persoalan agama tidak ada hubungannya sama sekali dengan kebodohan dan kepintaran. Kalau seandainya teori tersebut benar, tentunya kita akan menemukan bahwa ketika manusia semakin bodoh dan tidak mengerti, maka mereka semakin kuat beragama. Sebaliknya, semakin pintar mereka, semakin kurang ketaatannya kepada agama. Jika demikian, maka seharusnya para ilmuan yang berada pada peringkat atas adalah orang-orang yang seluruhnya atheis.

3. Hipotesa Dialektika Ekonomi

Ada beberapa titik kelemahan dari hipotesa Marxisme ini, di antaranya yang berkaitan dengan sejarah agama-agama. Sejarah agama-gama menunjukkan adanya peninggalan-peninggalan beribadatan sejak masa pertama adanya manusia di bumi ini, termasuk di dalamnya periode yang mereka sebut dengan “periode sosialisme awal”. Penelitian yang dilakukan oleh Max Muller membuktikan bahwa penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah ditemukan sejak masa-masa paling kuno, dan dia tetap kokoh.

Titik kelemahan lainnya adalah pernyataan yang mengatakan bahwa pada periode-periode feodal, kita terpaksa harus menerima kenyataan bahwa pencipta dan pemeluk semua agama adalah orang-orang yang termasuk elit penguasa. Pernyataan ini bertentangan dengan bukti-bukti yang tidak mungkin diragukan, yang diberikan oleh sejarah agama-agama, tak terkecuali agama Yahudi dan Nasrani.

Hipotesa tersebut tidak sesuai dengan agama Yahudi, karena Nabi Musa bergabung dengan kalangan orang miskin dan tertindas, baik dalam ras maupun kelompok. Tetapi dilihat dari segi kelas sosialnya, Nabi Musa termasuk kalangan elite penguasa, karena dia berada dalam posisi sebagai “anak Fir’aun”, sesudah diasuh dan dibesarkan di dalam istana, dan menjadi pangeran kelas atas. Kemudian Nabi Musa memberontak kepada Fir’aun di istana Fir’aun sendiri, untuk kepentingan kelas Bani Israil yang tertindas. Revolusi yang digerakkan oleh Nabi Musa terhadap Fir’aun adalah untuk kepentingan kaum tertindas, yakni Bani Israil. Dengan demikian, revolusi tersebut bukanlah revolusi Fir’aunisme, tetapi melawan Fir’aun. Karena itu, ia seratus persen berbeda dari pendapat kaum Marxis yang mengatakan bahwa agama diciptakan oleh elite penguasa.  Di sini interpretasi Marxis tidak berguna lagi.

Ala kulli hal, seperti yang dikatakan Will Durant, “Semua analisis yang berkaitan dengan agama tidak benar sama sekali. Agama mempunyai seratus jiwa; jika Anda bunuh dia, pasti akan hidup kembali!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: