Sang Profesor

Eksistensi Tuhan; Ditolak dan Ditetapkan (1)

Posted on: Januari 13, 2010

Para penganut materialisme dan ateisme mengklaim, bahwa mereka adalah orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Di sisi lain, para penganut agama memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang yang menerima dan meyakini keberadaan Tuhan. Untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan salah satu dari dua pandangan tersebut, kita perlu mengkaji dan memahami argumen-argumen yang mereka sajikan.

Para penganut ateisme -untuk mempertahankan pandangan mereka- telah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan konsepsi kaum beragama. Di antara argumen yang mereka lontarkan terhadap para pemeluk agama adalah : Terjadinya kesalahan pada akal dan alat pikir, keyakinan terhadap wujud Tuhan disebabkan karena kebodohan, eksperimen-eksperimen ilmiah tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan, banyak kejahatan dan keburukan yang tidak sesuai dengan pandangan kaum beragama bahwa Tuhan itu adalah baik dan berkehendak baik, dan sejumlah dalil serta argumen lainnya. Berikiut ini, mari kita kaji argumen mereka.

Dalil pertama : Kesalahan akal dan alat pikir manusia.

Akal dan pikiran manusia dapat melakukan kesalahan, karenanya ia tidak bisa dijadikan sandaran dan tolok ukur kebenaran. Di samping itu, hasil pemikiran manusia dibagi dua. Pertama: Pemikiran yang menerima penelitian dan eksperimen. Kedua: Pemikiran yang tidak menerima penelitian dan eksperimen. Pemikiran yang menerima eksperimen dapat diterima, dan sebaliknya pemikiran yang tidak menerima eksperimen harus ditolak. Sementara persoalan-persoalan ketuhanan, termasuk hasil pemikiran manusia jenis kedua, yakni tidak bisa menerima eksperimen. Dengan demikian maka persoalan-persoalan agama dan segala hal yang berhubungan dengan ketuhanan tidak bisa diterima dan harus ditolak.

Muthahari dalam menjawab masalah ini menulis:

Pertama: Jika argumen tersebut benar, seharusnya tidak harus berpihak pada kaum materialisme dan tidak juga pada kaum ber-Tuhan, tetapi sebatas pada kaum “tidak mengetahui”. Karenanya, dalil tersebut tidak dapat mendukung mazhab meterialisme dan tidak juga bermanfaat bagi mereka.

Kedua: Argumen tersebut termasuk argumen akal murni, bukan eksperimen. Dengan demikian, jika selain eksperimen tidak ada argumen lain yang bisa dijadikan sandaran, maka dengan sendirinya argumen inipun tidak dapat dijadikan sandaran. Oleh sebab itu, dengan sendirinya dalil inipun harus ditolak. Sebab, dia menolak keabsahan dalil yang bukan eksperimen.

Ketiga: Penelitian dan eksperimen itu berlandaskan pancaindera. Sedangkan pancaindera tidak lebih kecil dan lebih sedikit kesalahannya dibandingkan dengan akal. Oleh sebab itu, jika argumen akal tersebut ditolak keabsahannya -dengan alasan mengalami kesalahan- maka hasil eksperimen pun harus ditolak keabsahannya, karena pancaindera pun bisa mengalami kesalahan, bahkan lebih banyak dibanding kesalahan akal. Jadi pada dasarnya, sebagaimana kesalahan yang terjadi pada panca indera itu tidak menyebabkan orang menolak seluruh pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penelitian dan eksperimen -karena kesalahan bisa dihindari dengan pengulangan penelitian dan eksperimen yang lebih seksama dan teliti- demikian pula halnya kesalahan sebagian dari argumen akal, tidak harus menyebabkan seluruh bentuk argumennya tertolak. Sebenarnya manusia, dengan ketelitian dan latihan yang sempurna dan dengan penuh kehati-hatian pada materi dan bentuk istidlal (argumentasi akal murni), dapat sampai pada satu seri argumentasi yang meyakinkan yang tidak perlu dibantu oleh eksperimen. Bahkan sebagian besar dari masalah-masalah ketuhanan di dalam filsafat dan teologi Islam ditetapkan berdasarkan argumen bentuk ini.

Dalil ke dua : Manusia itu beragama (meyakini eksistensi Tuhan), disebabkan menyaksikan berbagai peristiwa dan bencana alam, tetapi mereka tidak mengetahui sebab khusus dari peristiwa dan kejadian alam tersebut. Kepercayaan terhadap wujud Tuhan inilah yang dijadikan alat untuk menjelaskan ketidaktahuan mereka terhadap sebab khusus tersebut.

Pada dasarnya pandangan yang dipelopori oleh August Comte ini berpijak pada asumsi bahwa sumber didapatkannya agama dan kepercayaan pada wujud Tuhan adalah karena kebodohan dan kejahilan manusia terhadap gejala dan fenomena sebab akibat yang terjadi di alam ini. Kemudain, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, pemikiran tentang Tuhan dan agama pada manusia akan menjadi hilang. Jadi, pandangan ini berlandaskan pada suatu teori bahwa hukum-hukum universal pada awalnya merupakan bentuk hipotesa-hipotesa yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa dan fenomena yang tidak diketahui sebabnya. Kemudian penelitian dan eksperimen memiliki peran untuk menentukan apakah hipotesa tersebut diterima ataukah ditolak. Dalam hal ini, keyakinan manusia terhadap wujud Tuhan pun merupakan sebuah hipotesa yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap sebab dari berbagai peristiwa dan fenomena, seperti timbulnya berbagai macam penyakit, gunung meletus, gempa bumi, gerhana matahari dan bulan, topan dan bencana alam lainnya.

Tetapi sebagaimana diketahui, tidak semua hukum-hukum dan judgmen-judgmen manusia dari jenis tersebut harus diperoleh dengan jalan penelitian dan eksperimen. Seperti proposisi mate-matika misalnya, proposisi jenis ini tidak perlu dilakukan penelitian dan eksperimen laboratorium untuk menemukan hasilnya apakah hipotesa sebelumnya cocok dengan hasil eksperimen ataukah tidak. Tetapi dengan metode mate-matika itu setiap orang dapat langsung memperoleh konklusinya tanpa melakukan hipotesa dan eksperimen sebelumnya. Meskipun -seandainya- teori di atas dapat dipercaya, tetapi hal itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk meyakini wujud Tuhan.

Sebab jika diasumsikan bahwa keyakinan terhadap wujud Tuhan merupakan hasil suatu hipotesa, maka dia harus dinamakan hipotesa ” sebab dari semua sebab – sebab” (hatta sebab dari hukum kausalitas alam itu sendiri). Adapun hipotesa sebab untuk akibat khusus tidak mempunyai hubungan dengan kepercayaan pada Tuhan kaum beragama. Karena -menurut kaum beragama- suatu maujud yang dapat memberikan efek khusus pada maujud lainnya (yakni suatu sebab terbatas yang hanya bisa memunculkan akibat terbatas), tidak bisa dan tidak layak dikonsepsi sebagai Tuhan. Bahkan itu hanyalah merupakan satu makhluk dari makhluk-makhluk Tuhan yang tak terhitung jumlahnya.

Dalil ketiga : Manusia berpikir tentang Tuhan dan beragama dikarenakan keterbelakangan dan problem-problem sosial serta ekonomi yang tidak dapat mereka atasi. Kaum beragama itu berasal dari masyarakat strata bawah, kemudian penderitaan dan kemiskinan yang dialaminya menyeret mereka pada kondisi kebutuhan kepada perlindungan. Karenanya, berpikir tentang wujud Tuhan dan beragama, mereka jadikan sebagai tempat bernaung untuk mengurangi penderitaan mereka dan memberikan ketenangan jiwa. Di sisi lain, masyarakat strata atas dan para penguasa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan kondisi ini demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya, sehingga keyakinan dan kepercayaan kelas bawah tersebut tetap eksis dan terpelihara. Atas dsar itulah aliran ini menolak agama, sebab agama -menurut mereka- merupakan candu masyarakat.

Dengan menelusuri sejarah para nabi pendakwah agama dan menyaksikan keragaman strata masyarakat yang menerima keberadaan Tuhan dan beragama, pandangan ini dengan mudah dapat ditolak. Karena tidak semua para nabi dan pendakwah agama itu dari kaum lemah, miskin, dan lapisan masyarakat bawah. Bagitu pula orang-orang yang menerima seruan mereka, tidak semuanya dari lapisan dan golongan masyarakat miskin dan menderita. Di zaman sekarang ini kita saksikan, betapa banyak orang-orang pintar, ilmuan, seniman, praktisi politik, penguasa, serta orang-orang kaya yang berpegang teguh pada agama secara murni tanpa pretensi dan kepentingan individu serta golongan. Bahkan tidak hanya sebatas itu, mereka malah bersedia menjadi pasilitator untuk pengembangan dakwah agama ditengah masyarakat. Kebalikan dari pandangan tersebut, justru kemiskinan yang mendekatkan seseorang kepada kekufuran (menolak Tuhan dan keluar dari agama).

Dalil Keempat : Pembahasan tentang Tuhan tidak akan sampai pada suatu konklusi, karena jika segala yang maujud di alam ini memiliki sebab dan Tuhan adalah sebab utamanya, maka berarti, Tuhan juga tidak bisa keluar dari hukum kausalitas tersebut, artinya bahwa Tuhan juga harus memiliki sebab. Sesuai dengan hukum ini bahwa setiap eksistensi harus mempunyai sebab.

Betrand Russel dalam buku kecilnya “Mengapa saya tidak beragama masehi (Kristen)?” berkata: ” Ketika saya masih muda, saya tidak memikirkan masalah yang dalam ini, dan argumen sebab dari semua sebab-sebab sudah cukup lama saya dengar. Sampai suatu hari ketika usia saya 18 tahun dengan membaca otobiografi John Stuart Mill, saya dapati kalimat ini; ayah saya berkata pada saya bahwa pertanyaan :siapa yang menciptakan saya? tidak punya jawaban. Sebab jika ada jawabnya, maka akan segera disusul dengan pertanyaan berikutnya: siapa yang menciptakan Tuhan? Kalimat sederhana ini menjelaskan kepada saya tentang kebatilan argumen sebab dari semua sebab-sebab. Jika setiap sesuatu harus mempunyai sebab, maka Tuhan juga harus mempunyai sebab. Karena jika sesuatu itu dapat ber-eksistensi tanpa sebab, maka sesuatu itu bisa berupa Tuhan dan bisa juga berupa alam. Ditinjau dari sisi inilah kehampaan argumen tersebut”.

Pada dasarnya orang yang menganggap salah dan batil argumen sebab dari semua sebab-sebab dikarenakan kerancuan pengetahuan mereka atas maksud dari argumen tersebut. Sebenarnya argumen ini tidak mengatakan bahwa setiap yang memiliki eksistensi itu harus bersebab, sehingga wujud Tuhan pun butuh kepada sebab selain diri-Nya. Tetapi yang dimaksud bahwa segala sesuatu yang memiliki eksistensi itu harus bersebab adalah segala sesuatu yang bersifat wujud mumkin (yakni segala sesuatu yang -dari segi konsepsi- antara ada dan tidak adanya adalah sama). Sedangkan Tuhan bukanlah wujud mumkin, tetapi Tuhan adalah wujud wajib, yakni wujud yang keberadaannya bersifat niscaya (dharuri) dengan sendirinya. Dengan demikian maka eksistensi Tuhan tidak membutuhkan sebab. (Di dalam filsafat Islam, prinsip ini dibahas secara luas dan detail. Pilar-pilarnya adalah kemustahilan daur (sirklus) dan kemustahilan tasalsul (berantai) dalam hukum sebab-akibat). Pada saatnya nanti kita akan sampai juga pada pembahasan yang cukup menarik ini. Kami harap Anda sabar menunggu gilirannya. [wisdoms4all.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: