<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sang Profesor</title>
	<atom:link href="http://usepsaefurohman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi Inspirasi Agar Hidup Lebih Berarti</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Apr 2010 11:00:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='usepsaefurohman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/95d1245070fd53dc50523d008207d9ea?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Sang Profesor</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://usepsaefurohman.wordpress.com/osd.xml" title="Sang Profesor" />
	<atom:link rel='hub' href='http://usepsaefurohman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/mengaktifkan-siswa-dalam-belajar/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/mengaktifkan-siswa-dalam-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 11:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=660</guid>
		<description><![CDATA[Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya  telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran  aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=660&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembelajaran aktif (<em>active learning</em>)  tampaknya  telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat  ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran  aktif ini terasa semakin  mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional,  sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga  sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan  konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.</p>
<p>Beberapa kalangan berpendapat  bahwa  inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan  paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif  ke model  pembelajaran aktif.</p>
<p>Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam  sebuah tulisannya  yang berjudul <em>Active Learning, </em>di bawah ini  akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif.  Menurut L. Dee Fink,  pembelajaran  aktif  terdiri dari  dua komponen utama yaitu: unsur <strong>pengalaman</strong> (<strong>experience</strong>), meliputi  kegiatan <strong>melakukan</strong> (<strong>doing</strong>) dan pengamatan (<strong>obeserving</strong>)  dan <strong>dialogue</strong>, meliputi <strong>dialog dengan diri  sendiri</strong> (<strong>self</strong>) dan <strong>dialog dengan orang  lain</strong> (<strong>others</strong>)</p>
<p><img src="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2010/04/active-learning.gif?w=600" border="0" alt="active learning" /><strong></strong></p>
<p><strong>Dialog dengan Diri </strong><strong>(Dialogue  with Self)</strong> <strong>:</strong></p>
<p>Dialog dengan diri adalah bentuk belajar  dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik.  Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang  atau  harus  dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya.  Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (<em>thinking about my  own thinking</em>)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas,  dan  tidak hanya berkaitan  dengan aspek kognitif semata.</p>
<p><strong>Dialog dengan orang lain (</strong><strong>Dialogue with  Others) :</strong></p>
<p>Dalam pembelajaran tradisional, ketika  siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka  sedang  berdialog dengan “mendengarkan” dari orang lain (guru, penulis  buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi  balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “<em>partial  dialogue</em>“</p>
<p>Bentuk lain dari dialog yang lebih  dinamis adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (<em>small  group</em>), dimana para siswa dapat berdiskusi  mengenai topik-topik  pelajaran secara intensif. Lebih dari itu.,  untuk melibatkan siswa ke  dalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan cara-cara  kreatif, misalnya  mengajak  siswa untuk berdialog dengan praktisi, <a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/">ahli</a>, dan sebagainya.  baik  yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas, melalui  interaksi langsung  atau secara tertulis.</p>
<p><strong>Mengamati (</strong><strong>Observing) </strong><strong>: </strong></p>
<p>Kegiatan ini terjadi dimana para siswa  dapat melihat  dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (<em>doing  something</em>)” , terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya.  Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Misalnya, guru olah  raga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru  komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan  sebagainya,</p>
<p>Selain mengamati peragaan yang  ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan  melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan  bagaimana cara  kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan  seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat  musik gitar, dan sebagainya.  Begitu juga siswa dapat diajak untuk  mengamati fenomena-fenomena lain,   terkait dengan topik  yang sedang  dipelajari,  misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.</p>
<p>Tindakan mengamati dapat dilakukan  secara “langsung” atau “tidak langsung.” Pengamatan langsung artinya  siswa diajak mengamati kegiatan  atau situasi nyata secara langsung.  Misalnya, untuk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat  diajak langsung mengunjungi bank-bank yang ada di daerahnya. Sedangkan  pengamatan tidak langsung, siswa diajak melakukan pengamatan terhadap  situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus  atau diajak menonton film (video). Misalnya  unruk mempelajari seluk  beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak menyaksikan video tentang   situasi  kehidupan di sebuah bank.</p>
<p><strong>Melakukan (</strong><strong>Doing)</strong><strong>:</strong></p>
<p>Kegiatan ini menunjuk pada proses  pembelajaran di mana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata.  Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik),  mendesain atau  melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki  sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan,   membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya  dengan mengamati (observing), kegiatan “melakukan” dapat dilaksanakan  secara langsung atau tidak langsung</p>
<p>Terkait dengan upaya mengimplementasikan  konsep di atas,  L. Dee Fink  menyampaikan 3 (tiga)  saran, sebagai  berikut:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Memperluas jenis pengalaman belajar. </strong></p>
<ul>
<li>Buatlah  kelompok-kelompok kecil siswa  dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan  terfokus secara berkala.</li>
<li>Temukan cara agar siswa dapat terlibat  dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain,  di luar  teman-teman  sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata).</li>
<li>Dorong siswa untuk membuat jurnal  pembelajaran atau portofolio belajar. Guru  dapat meminta para siswa  untuk  menuliskan  tentang apa yang mereka pelajari,  bagaimana mereka  belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya  untuk kehidupan  mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka <em>merasa</em>,  dan  sebagainya.</li>
<li>Temukan cara untuk membantu siswa agar  dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik  secara langsung  maupun tidak langsung.</li>
<li>Temukan cara yang memungkinkan siswa  untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik  secara  langsung maupun tidak langsung.</li>
</ul>
<p><strong>2. </strong><strong>Mengambil manfaat dari </strong><strong>“Power  of Interaction.”</strong></p>
<p>Dari keempat bentuk belajar di atas,  masing-masing memiliki nilai tersendiri, tetapi apabila keempat bentuk  belajar tersebut (<em>Dialogue with Self, Dialogue with Others,  Observing, </em>dan <em>Doing</em>) dikombinasikan secara tepat, maka  akan dapat memberikan efek belajar yang lebih kaya kepada para siswa.</p>
<p>Para pendukung <em>Problem-Based  Learning</em> menyarankan kepada para guru untuk mengawalinya dengan  kegiatan “<em>Doing</em>”, dimana guru terlebih dahulu  mengajukan  berbagai masalah nyata (real problem) untuk diselesaikan oleh siswanya.   Kemudian, siswa diminta untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan  rekan-rekan sekelompoknya (<em>Dialogue with Others</em>) untuk  menemukan cara-cara terbaik guna  memecahkan masalah nyata yang  telah  diajukan. Setelah para siswa saling berkomunikasi dan berkonsultasi,  selanjutnya para siswa akan melakukan berbagai macam bentuk belajar  sesuai pilihannya, termasuk  didalamnya melakukan <a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/" target="_blank"><em>Dialogue  with Self </em></a>dan <em>Observing</em>.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Membuat dialektika antara pengalaman dan  dialog.</strong></p>
<p>Melalui pengalaman (baik melalui <em>doing </em>dan <em>observing</em>) siswa  memperoleh  perspektif baru tentang  apa yang benar (keyakinan) dan apa yang baik (nilai). Sementara melalui  dialog dapat membantu siswa  untuk mengkonstruksi berbagai makna dan  pemahamannya.</p>
<p>Untuk menyempurnakan prinsip interaksi  sebagaimana dijelaskan di atas yaitu dengan melakukan dialektika antara  kedua komponen tersebut. Dalam hal ini, secara kreatif guru dapat  mengkonfigurasi dialektika antara pengalaman baru yang kaya dan mendalam  dengan dialog yang bermakna, sehingga pada akhirnya siswa benar-benar  dapat memperoleh pengalaman belajar yang signifikan dan bermakna</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Terjemahan bebas dan adaptasi dari: L. Dee Fink. 1999. <a href="http://honolulu.hawaii.edu/intranet/committees/FacDevCom/guidebk/teachtip/active.htm" target="_blank">Active Learning</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/660/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=660&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/mengaktifkan-siswa-dalam-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2010/04/active-learning.gif?w=600" medium="image">
			<media:title type="html">active learning</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Gerakan Islam Terjun Ke Ranah Politik (4)</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-4/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 10:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat dan Pemikiran Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=658</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 31/03/2010 09:32 WIB &#124; email &#124; print &#124; share Partisipasi politik di bawah respresi penguasa Partisipasi gerakan Islam di Mesir, Yordania, dan Yaman tergolong dalam situasi yang sulit. Di Mesir dan Yordania, di mana Islam merupakan kekuatan oposisi yang cukup terorganisir, mereka telah menjadi sasaran penindasan pemerintah. Di Yaman, Uni Islah terjebak dalam proses [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=658&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tanggal">Rabu, 31/03/2010 09:32 WIB | <a href="http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/send/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-4">email</a> | <a href="http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/cetak/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-4">print</a> | <a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?url=http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-4.htm">share</a></div>
<p><img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove1.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p><strong>Partisipasi politik di bawah respresi penguasa</strong></p>
<p>Partisipasi gerakan Islam di Mesir, Yordania, dan Yaman tergolong  dalam situasi yang sulit. Di Mesir dan Yordania, di mana Islam merupakan  kekuatan oposisi yang cukup terorganisir, mereka telah menjadi sasaran  penindasan pemerintah. Di Yaman, Uni Islah terjebak dalam proses  keruntuhan negara antara Utara dan Selatan, divisi suku, dan ekonomi  negara yang goyah.</p>
<p>Ikhawan Mesir mempunyai kasus khusus yang menarik tentang bagaimana  partisipasi dapat mengakibatkan regresi ideologis. Ikhwan di bawah  kepemimpinan reformis menyebabkan represi pemerintah yang lebih  sistematis. Tindakan ini menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan  dalam keseimbangan internal Ikhwan sendiri.</p>
<p><img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove2.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Islam Kuwait bahkan lebih terfragmentasi. Contoh paling hebat adalah  Gerakan Konstitusi Kuwait (PTT). ICM menghadapi persaingan ketat dan  tekanan dari peserta kelompok Salafi, yang mengambil posisi tak kenal  kompromi pada moral dan isu-isu sosial seperti kode gender dan  berpakaian.</p>
<p>Partisipasi di bawah kondisi yang normal muncul untuk menjadi bagian  dari proses politik hukum negara mereka, hingga kurang fokus pada  isu-isu ideologis, dan lebih mengkhusyukan diri pada tantangan praktis  yang mempertahankan dukungan konstitusi mereka. Setelah di parlemen,  gerakan dan partai Islam dipaksa untuk fokus pada isu-isu parlemen,  sementara ideologi memainkan peran sekunder.</p>
<p>Januari 2006 pemilu di Palestina, Hamas muncul sebagai pemenang,  dinilai bersih oleh semua pengamat. Pada bulan Juni 2007, Hamas  menguasai Gaza. Kasus-kasus di Palestina menunjukkan bahwa keberadaan  sayap militer dalam sebuah partai Islam atau gerakan mudah menjadi alat  politik dalam negeri. Tidak peduli mengapa milisi ada, kehadiran mereka  mempengaruhi keseimbangan kekuasaan dalam negeri.</p>
<p>Pertanyaannya adalah: apakah gerakan dalam proses politik akan  mendorong mereka untuk secara bertahap meninggalkan sayap militer  mereka? Pengalaman Hamas sangat  tidak menjanjikan dalam hal ini; proses  politik bukanlah pilihan realistis, mengingat dukungan rakyat yang luar  biasa yang mereka dapatkan selama ini.</p>
<p><strong>Perdebatan pasca-partisipasi politik </strong></p>
<p>Gerakan Islam yang telah memilih partisipasi politik memiliki dampak  terbatas pada negara-negara mereka. Dan respon untuk tantangan ini akan  menentukan arah masa depan Islam. Setidaknya ada tiga tantangan yang  bisa diuraikan</p>
<p><img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove3.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Tantangan pertama adalah untuk meyakinkan pengikut mereka bahwa  partisipasi politik tetap satu-satunya pilihan. Dua argumen yang  digunakan untuk tujuan ini: bahkan keuntungan kecil sekalipun membantu  melindungi gerakan dari pemerintah  dan memelihara konstituen, dan  partisipasi yang diperlukan untuk meredakan kecurigaan partai Islam oleh  pemerintah dan pihak oposisi lainnya.</p>
<p>Tantangan kedua adalah mengembangkan keseimbangan antara kebutuhan  partisipasi dan tuntutan dari komitmen ideologis. Sejauh ini, gerakan  Islam yang bergerak di antara dua wilayah ekstrem: ada yang kembali ke  posisi garis keras, seperti Ikhwan. Yang lain adalah untuk membuka  kembali diskusi tentang komponen penting dari gerakan Islam dan bobot  pragmatisme politik dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip.</p>
<p>Tantangan ketiga adalah untuk memikirkan kembali hubungan antara  komponen agama dan politik,  dengan demikian bisa merancang struktur  terbaik untuk mengatur gerakan. Perdebatan didorong sebagian oleh  kondisi tertentu. Ikhwan, misalnya, tidak memiliki pilihan, tetapi untuk  menjaga mekanisme politik dan ideologi dalam satu organisasi, karena  pemerintah Mesir tidak memungkinkan mereka untuk membentuk partai  politik.</p>
<p><img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove4.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Sebagai kesimpulan, tidak ada jawaban mudah untuk  pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan tentang partisipasi gerakan  Islam dan gerakan: &#8220;Apakah mereka benar-benar berkomitmen untuk  demokrasi? Akan partisipasi politik meningkatkan komitmen mereka?” Semua  jawabannya adalah: tergantung. Ini adalah keseimbangan kekuasaan antara  kelompok-kelompok yang berbeda yang ditentukan oleh politik negara  serta politik internal organisasi. <em>HABIS</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/658/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/658/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=658&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0islammove4.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Hasil Muktamar 32 NU</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/membaca-hasil-muktamar-32-nu/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/membaca-hasil-muktamar-32-nu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 10:54:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ali Maschan Moesa (Guru Besar Sosiologi IAIN Sunan Ampel Surabaya) Memahami Nahdlatul Ulama (NU) ke belakang, semua pihak akan memberikan apresiasi atas saham besarnya bagi Republik Indonesia sebagai nation-state . Betapa tidak? KH M Hasyim Asy&#8217;ari dan KH A Wahid Hasyim dengan Majelis Islam A&#8217;la Indonesia (MIAI) memberikan dukungan kepada Gabungan Politik Indonesia (GAPI) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=656&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh:</strong> Ali Maschan Moesa<br />
(Guru Besar  Sosiologi IAIN Sunan Ampel Surabaya)</p>
<p>Memahami Nahdlatul Ulama  (NU) ke belakang, semua pihak akan memberikan apresiasi atas saham  besarnya bagi Republik Indonesia sebagai <em>nation-state</em> . Betapa  tidak? KH M Hasyim Asy&#8217;ari dan KH A Wahid Hasyim dengan Majelis Islam  A&#8217;la Indonesia (MIAI) memberikan dukungan kepada Gabungan Politik  Indonesia (GAPI) dalam menuntut &#8216;Indonesia Berparlemen&#8217;. Ketika itu  pula, tokoh-tokoh NU ikut aktif dalam BPUPKI serta Panitia Persiapan  Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam konteks ini, tidak heran jika Wahid  Hasyim terpilih sebagai salah satu anggota Panitia Sembilan yang  bertugas merumuskan Piagam Jakarta hingga akhirnya menjadi Pancasila dan  Pembukaan UUD 1945.</p>
<p>Membaca NU dari sisi organisasi belumlah  cukup karena pada dasarnya NU harus dibaca baik dari sisi organisasinya  maupun warganya. Saat ini, justru fokus membaca warganya adalah &#8216;lebih  penting&#8217; dalam konteks menegasikan  <em>systemic injustice</em> dan  kesejahteraan bagi mereka.</p>
<p>Secara hierarkis, NU memiliki dua  elemen pokok, yaitu NU sebagai organisasi ( <em>jam&#8217;iyyah</em> ) dan NU  sebagai komunitas (jamaah). NU sebagai  <em>jam&#8217;iyyah</em> memiliki  struktur yang jelas, mulai dari PB sampai ranting di level desa atau  kelurahan. Secara struktural, organisasi ini berorientasi pada  implementasi pengembangan agama yang  <em>rahmatan lil&#8217;alamin</em> dan  gerakannya adalah sosiokultural. Sedangkan, NU sebagai jamaah memiliki  warga yang sangat banyak dan tersebar di seluruh wilayah Tanah Air.</p>
<p>Laporan  LSI 2009 menyatakan, 38 persen umat Muslim menyatakan, dirinya adalah  bagian dari komunitas NU. Artinya, sekitar 80 juta rakyat Indonesia  adalah jamaah NU. Survei PPIM UIN Jakarta 2002 mencatat angka yang lebih  besar, yaitu 42 persen atau kurang lebih 87 juta, yang tersebar hampir  merata di seluruh Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah rakyat  level  <em>grass root</em> , baik di kota maupun di pedesaan. Mereka  memiliki kohesivitas yang tinggi karena secara sosial ekonomi memiliki  problem yang sama, yaitu keterbelakangan, kemiskinan, dan  powerless  society .</p>
<p>Setelah muktamar rampung, semua pihak, khususnya para  pemimpin NU, selayaknya mulai merenung ulang, apa sebenarnya makna  hakiki dari Muktamar ke-32 NU di Makassar. Adakah  output -nya berdampak  positif bagi pemberdayaan NU sebagai jamaah atau hanya gebyar kemegahan  seperti rumah di atas pasir? Karena itu, semuanya harus memahami  kembali pidato  Hadratu al-Syaikh  KH M Hasyim Asy&#8217;ari ketika pertama  kali NU berdiri.</p>
<p>Pidato yang populer disebut Konstitusi Dasar (  Qonun Asasy ) tersebut paling tidak mengamanatkan tiga hal pokok bagi  para petinggi NU. Pertama, terciptanya persatuan ( al-ittihad ),  kebersamaan ( al-ijtima&#8217; ), saling kasih ( al-taaluf ), dan saling  tolong menolong ( al-ta&#8217;awun ) bagi warga NU, khususnya persatuan para  kiai yang menjadi pilar NU.</p>
<p>Kedua, NU sebagai organisasi harus  mampu memberikan rasa aman bagi semua pihak, baik para penguasa ( aqwiya  ), para pengusaha ( aghniya ), maupun para fakir miskin. Ketiga, NU  harus lebih giat lagi fokus pada program pendidikan dalam arti yang  sebenarnya, yaitu tersedianya para guru yang baik kemampuan maupun  kualitas kepribadiannya dijamin.</p>
<p>Dalam perspektif tujuan NU ini,  KH M Hasyim Asy&#8217;ari ternyata masih memohon gurunya KH M Khalil Madura  untuk sembahyang istikharah, memohon kepada Tuhan apakah para kiai di  Indonesia diperkenankan mendirikan sebuah organisasi. Alhasil, Tuhan  mengizinkan para kiai mendirikannya dengan munculnya tiga lambang.  Pertama, surah Thaha 17-23, yang memberi isyarat, jika NU sudah berdiri,  komitmen pertama adalah  empowerment  terhadap fakir miskin dan  orang-orang yang terpinggirkan ( mustadh&#8217;afin ). Kedua, tongkat yang  maknanya adalah NU harus mempertahankan NKRI sebagai  nation-state .  Ketiga, sebuah tasbih yang isyaratnya adalah dimensi spiritualitas dari  ajaran agama. Menurut riwayat, semua lambang tersebut dibawa seorang  kurir, yaitu KH As&#8217;ad Syamsul Arifin, yang bertugas membawanya dari  Pesantren Demangan Bangkalan menuju Tebuireng Jombang.</p>
<p>Selanjutnya,  Muktamar ke-32 NU di Makassar membuktikan bahwa NU adalah organisasi  sosial keagamaan yang selalu mampu melaksanakan &#8216;demokrasi liberal&#8217;  dalam arti yang sebenarnya. Namun, sudah saatnya NU &#8216;mendesain ulang&#8217;  demokrasi prosedural yang tidak menafikan nilai-nilai luhur  Ahlu  al-Sunnah wa al-Jama&#8217;ah . Ketika sedang berproses pemilihan rais am  secara langsung, banyak kiai yang mengelus dada karena terdapat tekanan  batin antara memilih KH MA Sahal Mahfudz atau KH A Hasyim Muzadi.  Terdapat kesamaan emosi di antara para kiai bahwa keduanya adalah figur  yang sangat dihormati dalam NU.</p>
<p>Pada dasarnya, memilih KH A  Hasyim Muzadi adalah  rational choice , tetapi leher ke bawah empatinya  justru kepada KH M A Sahal Mahfudz. Perasaan muktamirin tersebut sudah  muncul sejak hari kedua muktamar berlangsung, bahkan sehari sebelum  pemilihan para kiai sepuh. Misalnya, KH Thalhah Hasan, Gus Mus, Habib  Luthfi, KH Sanusi Baco, dan sebagainya telah berupaya agar dua beliau  tidak saling berhadapan dalam pemilihan, yaitu dengan menggunakan  metode  ahlu al-hall wa al-&#8217;aqd , namun upaya mereka gagal.</p>
<p>Metode   ahlu al-hall  ini adalah ijtihad khalifah kedua, Umar bin Khattab RA.  Sebelum wafat, beliau menunjuk tujuh sahabat agar turun kepada umat  untuk mendengar aspirasi mereka, siapa yang mereka inginkan untuk  menggantikannya sebagai khalifah ketiga. Khalifah Umar berpesan, enam  dari tujuh sahabat tersebut boleh memilih dan boleh dipilih. Akan  tetapi, sahabat yang ketujuh, yaitu putranya, Abdullah bin Umar, boleh  memilih, namun tidak boleh dipilih. Setelah tim tujuh tersebut rampung   dari turun ke bawah, muncul dua nama sahabat, yaitu Ali bin Abi Thalib  dan Utsman bin &#8216;Affan. Dalam konteks ini, ternyata Ali bin Abi Thalib  menolak menerima jabatan khalifah sehingga otomatis jatuhlah pilihan itu  kepada sahabat Utsman bin &#8216;Affan sebagai khalifah ketiga.</p>
<p>Kita  ucapkan selamat mengemban amanah kepada KH MA Sahal Mahfudz sebagai rais  am dan KH Sa&#8217;id Aqiel Siraj sebagai ketua umum PBNU.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=656&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/membaca-hasil-muktamar-32-nu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Keniscayaan Polri (?)</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/dua-keniscayaan-polri/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/dua-keniscayaan-polri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 10:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=654</guid>
		<description><![CDATA[Dua Keniscayaan Polri (?) Jumat, 9 April 2010 &#124; 03:58 WIB Oleh Reza Indragiri Amriel Sesungguhnya sangat menggelikan ketika Mabes Polri beberapa pekan lalu tetap bersikukuh tidak ada makelar kasus atau markus di organisasi Tribrata itu. Toh, sangat banyak ilmuwan yang berpandangan tindak korupsi di lingkungan kepolisian termasuk manipulasi perkara adalah sama usianya dengan umur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=654&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Dua Keniscayaan Polri (?)</div>
<p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita -->Jumat, 9 April 2010 | 03:58 WIB</p>
<p>Oleh <strong>Reza Indragiri Amriel </strong></p>
<p>Sesungguhnya sangat menggelikan ketika Mabes Polri beberapa pekan  lalu tetap bersikukuh tidak ada makelar kasus atau markus di organisasi  Tribrata itu. Toh, sangat banyak ilmuwan yang berpandangan tindak  korupsi di lingkungan kepolisian termasuk manipulasi perkara adalah sama  usianya dengan umur korps penegak hukum itu sendiri.</p>
<p>Jadi,  bantahan atau pengingkaran Polri tentang keberadaan markus benar-benar  terdengar bagaikan utopia di siang bolong.</p>
<p><strong>Keniscayaan pertama</strong></p>
<p>Munculnya rupa-rupa  ketidaksemenggahan perilaku (misconduct), termasuk tindak korupsi, di  organisasi kepolisian tak berlebihan untuk disebut sebagai kondisi yang  kodrati. Para akademisi biasa menyebut kondisi itu sebagai akibat yang  dimunculkan oleh faktor-faktor konstan. Disebut ”konstan” karena  menunjuk pada unsur-unsur institusional yang relatif tidak bisa  dihilangkan.</p>
<p>Faktor pertama adalah diskresi. Diskresi, bagi  polisi, merupakan ”senjata” terandal. Dalam metafora Farouk Muhammad,  mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, diskresi ibarat pedang  bermata ganda. Ketika digunakan melalui filter kognitif dan diselimuti  oleh bisikan hati nurani, diskresi menjadi amunisi terdahsyat untuk  menegakkan kebenaran dan keadilan. Namun, manakala diskresi dimanfaatkan  secara semena-mena,  diskresi tak ubahnya senjata pemusnah hak asasi  manusia yang paling mematikan.</p>
<p>Agar efektif, diskresi, dengan  demikian, benar-benar tergantung pada diri masing-masing personel  polisi. Sadar akan kekuatan diskresi, personel tak pelak dapat tergoda  sewaktu-waktu  menggunakannya untuk keperluan  menyimpang.</p>
<p>Faktor  kedua, kerja polisi menyangkut penggunaan kekuasaan, bahkan sebagian di  antaranya mengerahkan kekerasan. Pada saat yang sama, tak sedikit area  kerja polisi yang berada di wilayah tertutup. Penyalahgunaan kekuasaan  dan kekerasan di wilayah tertutup, jadi prakondisi bagi berlangsungnya  penyimpangan perilaku personel polisi.</p>
<p>Faktor ketiga, supervisi  yang tidak memadai dari atasan. Sekian banyak survei, termasuk yang  dilakukan terhadap polisi Chech, menemukan bahwa kebanyakan personel  polisi memandang atasan sebagai pihak yang sejatinya paling bisa  diandalkan sebagai model ideal dalam rangka pembersihan organisasi.  Persoalannya, pada saat yang sama, polisi-polisi tersebut juga menilai  para penyelia mereka bukanlah personel polisi yang bersih. Alih-alih,  para senior itu justru menjadi model bagi berseminya tindak-tanduk  koruptif.</p>
<p>Faktor keempat, persepsi negatif polisi terhadap  masyarakat. Arogansi yang awalnya bersifat individual mewabah menjadi  arogansi korps. Sorotan publik terhadap integritas dan profesionalitas  institusi kepolisian acap ditanggapi sebagai sesuatu yang mengada-ada.  Resistensi polisi terhadap tekanan masyarakat sangat kuat. Pandangan  yang merendahkan publik tak pelak jadi warna budaya organisasi polisi  dan bukan lagi tingkah laku individu per individu semata.</p>
<p>”Beruntung”,  keempat faktor konstan yang membuat korupsi menjadi—nyaris—keniscayaan  tersebut selalu bisa ditutupi dari waktu ke waktu berkat adanya the Code  atau the Blue Curtain atau the Code of Silence. Ketiga istilah itu  merupakan padanan jiwa korsa (semangat korps) yang distortif, yakni  solidaritas untuk menutup-nutupi kesalahan sesama anggota korps.</p>
<p>Berkat  the Blue Curtain pula, hampir tak pernah terungkap sama sekali angka  riil tindak korupsi di institusi kepolisian. Angka-angka yang mengemuka  hanya sebatas indikasi, yakni besaran yang datang dari tindakan  antikorupsi. Bukan dari nominal sebenarnya yang dikorupsi.</p>
<p>The  Code of Silence sebagai kultur menyimpang baru bisa didobrak manakala  peniup peluit (whistle blower) beraksi. Dalam kehebohan makelar kasus  pajak di Mabes Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji adalah sang peniup  peluit itu.</p>
<p>Berkat  Susno pula, publik jadi tahu sebagian angka  riil korupsi di Mabes Polri.  Susno kini sedang di atas angin. Namun,  terlepas bagaimana akhir perang bintang antara  Susno dan Mabes Polri,  ada sejumlah konsekuensi yang tampaknya akan muncul. Pertama, baku  hantam ini terutama sekali akan meruntuhkan wibawa personel polisi di  lapangan, khususnya para personel Polri berpangkat rendah. Masyarakat  yang pada dasarnya sudah tak begitu simpati kepada Polri akan kian  memandang enteng kewibawaan aparat berseragam coklat itu. Mental aparat  pun tak terelakkan anjlok akibat pandangan mencibir yang ditunjukkan  khalayak luas.</p>
<p>Kedua, siapa pun yang akan—katakanlah—menang dalam  adu gelut antara Susno dan Mabes Polri, harga diri (dignity) Polri  tetap saja runtuh. Yang khalayak lihat sesungguhnya bukan pertaruhan  antara seorang Susno dan para individu yang menjabat  petinggi Mabes  Polri belaka. Nama baik korps Tribrata, bukan yang lain, adalah yang  paling dipertaruhkan. Dan, celakanya, ini adalah pertaruhan yang teramat  mudah untuk diterka bagaimana akhirnya. Itu tadi: dignitiy atau  kehormatan Polri yang porak poranda, siapa pun ”juara”-nya.</p>
<p>Ketiga,  apa yang sesungguhnya tengah diperjuangkan  Susno? Juga, apa sebenarnya  yang sedang dipertahankan  Polri? Mereka mudah-mudahan tidak lupa,  kodrat polisi adalah sebagai anak kandung masyarakat. Jadi, jangan  sampai akibat dua gajah bertarung, pelanduk yang terjepit di  tengah-tengah. Jangan sampai dua kubu Polri saling unjuk taring, tetapi  justru masyarakat yang terengah-engah kehilangan napas.</p>
<p>Keempat,  friksi antarsesama anggota Polri akan mudah dibaca oleh  para bandit  sebagai kesempatan emas  melakukan serbaneka tindak kejahatan. Polemik  tentang markus membuat Polri lengah, energi terforsir, kewaspadaan dan  kesigapan kerja menurun. Konsekuensinya, angka dan kualitas kejahatan  yang ditakutkan akan meningkat.</p>
<p><strong>Keniscayaan  kedua</strong></p>
<p>Kasus Gayus Tambunan semestinya tidak dibingkai  sebagai manipulasi kasus perpajakan semata. Kasus Gayus harus dijadikan   momentum pembersihan organisasi Polri beserta lembaga penegak hukum  lainnya.</p>
<p>Dalam konteks yang lebih luas tersebut, dengan segala  hormat saya, sepertinya Jenderal Bambang Hendarso Danuri tidak cukup  kuat untuk menghadapi guncangan internal di lembaga yang dipimpinnya.  Terlebih, setelah sebelumnya sempat terkesan melindungi dua jenderalnya  yang disebut-sebut  Susno sebagai markus, kini Kapolri kembali  mengingkari adanya kebiasaan pemberian setoran dari bawahan kepada  atasan di institusi Polri. Padahal, sudah sejak lama, hal-hal semacam  itu, termasuk ”lelang jabatan”, menjadi obrolan sehari-hari di ruang  publik.</p>
<p>Apa boleh buat; tanpa maksud menihilkan catatan positif  yang telah dicapai oleh Kapolri saat ini,  bisa jadi Indonesia butuh  rezim Polri baru untuk mengakhiri masalah markus dalam kasus Gayus.  Lebih mendasar lagi, untuk membenahi Polri secara lebih radikal. Polri  butuh reformasi organisasi. Polri butuh revitalisasi spirit  profesionalisme. Tentu saja, seberat apa pun masalah yang mereka hadapi,  Polri butuh dukungan kita: masyarakat Indonesia. Wallahualam.</p>
<p>Reza  Indragiri Amriel <em>Alumnus Psikologi Forensik, The University of  Melbourne</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/654/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/654/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=654&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/dua-keniscayaan-polri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan Tak Tergantikan</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/kepemimpinan-tak-tergantikan/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/kepemimpinan-tak-tergantikan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 10:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Kepemimpinan Tak Tergantikan Jumat, 9 April 2010 &#124; 03:59 WIB Oleh Saifur Rohman Kongres PDI Perjuangan di Bali, 5-9 April 2010, menghasilkan keputusan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum kurun waktu 2010-2014. Keputusan itu merupakan perwujudan pandangan 33 DPD PDI-P di seluruh Indonesia. Dalam reportase Kompas (6/4) tertulis, ”Apa jadinya PDI-P tanpa Megawati. Ia akan menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=652&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Kepemimpinan Tak Tergantikan</div>
<p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita -->Jumat, 9 April 2010 | 03:59 WIB</p>
<p>Oleh <strong>Saifur Rohman </strong></p>
<p>Kongres PDI Perjuangan di Bali, 5-9 April 2010, menghasilkan  keputusan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum kurun waktu  2010-2014.</p>
<p>Keputusan itu merupakan perwujudan  pandangan  33 DPD  PDI-P di seluruh Indonesia. Dalam reportase Kompas (6/4) tertulis, ”Apa  jadinya PDI-P tanpa Megawati. Ia akan menjadi partai nasionalisme yang  pas-pasan yang banyak beredar belakangan ini.”  Di balik optimisme itu,  pertanyaan paralel laik diajukan: apa jadinya bila kepemimpinan harus  terus-menerus dengan Megawati? Pertanyaan lebih mendasar: adakah sebuah  kepemimpinan tanpa regenerasi alias tak tergantikan mampu menjawab  tantangan? Bagaimana solusi kepemimpinan tanpa penerus ini sebagai  pelajaran kita terhadap pembelajaran model kepemimpinan bangsa?</p>
<p>Kita  perlu menjawab pertanyaan itu. Lima tahun lagi kepemimpinan bangsa tak  terlepas dari cara pandang   sekarang. Tahun ini, partai-partai besar  menjalankan mekanisme kepemimpinan mereka. Model yang dikembangkan jelas  sangat berpengaruh terhadap perkembangan bangsa. Tulisan ini  memperlihatkan kelemahan model yang sedang berkembang dan menawarkan  jalan keluar yang paling bisa diterima.</p>
<p>Kajian  pelbagai disiplin  ilmu sosial dan humaniora memberi petunjuk dasar tentang mekanisme  kepemimpinan. S Camini  (psikologi kepemimpinan):  ”Kepemimpinan bangsa  bukanlah sesuatu yang alamiah, diteruskan berdasarkan garis darah,  tetapi sesuatu yang perlu dipelajari dari kesalahan, kejatuhan, bahkan  kepahitan” (Fortune, 1995: 934).</p>
<p>Karena harus dipelajari,  kepemimpinan dalam disiplin filsafat kepemimpinan haruslah didasarkan  pada seni pelestarian nilai bersama. Sebagai sebuah seni, kajian   pandangan mazhab Frankfurt dan pragmatisme Amerika menuai sintesis:  kepemimpinan harus didasarkan pada pilar kebenaran dan keadilan.  Kebenaran, khusus dalam kebenaran politik pandangan John Dewey (1986:  65) dan Habermas (1986: 234), berarti ”sesuai dengan rasionalitas  publik” dan keadilan dalam pandangan John Rawls (1992: 45) berarti  ”memberi keuntungan terhadap semua instrumen yang hidup di dalam  kelompok bangsa”.</p>
<p>Kita boleh keberatan  sebab kenyataannya,  rasionalitas publik sering dimanipulasi melalui model transaksi yang tak  beda dengan aktivitas jual beli dalam proyek pemilihan kepemimpinan.  Contoh paling baru adalah perhelatan kepemimpinan partai besar tahun  lalu yang  kental dengan isu dangkal:  uang. Contoh lain, rasionalitas  publik dalam mekanisme kepemimpinan sering  terjerumus pada pemenuhan  kepentingan sesaat, harta, dan kedudukan. Keputusan memilih posisi  sebagai partai ideologis sesungguhnya menjauhkan diri dari manipulasi  rasionalitas sebab  ideologi akan melampaui pertimbangan rasio dan  mendudukkan diri pada wilayah keyakinan. Kepemimpinan  dimunculkan  melalui legitimasi ideologis yang dipercayai sebagai benar.</p>
<p><strong>Tidak realistis</strong></p>
<p>Persoalan   kemudian, legitimasi kepemimpinan yang didasarkan pada jalur ideologi  itu tak melulu membawa keadilan. Kepercayaan yang terlampau besar pada  legitimasi spekulatif itu akan jatuh pada kenyataan semu. Tak realistis!  Antara pengikut dan pemimpin tak ada kemampuan  melihat kenyataan   secara jernih dan nalar. Prinsip keadilan yang ditambahkan dalam  kepemimpinan berbasis ideologi akan membimbing kita pada pemahaman  tentang pengakuan adanya kenyataan yang plural. Hipotesis John Rawls  tentang keadilan mengajarkan betapa  penting transformasi nilai ideologi  kepada kader lain, bahkan kepada unit terkecil dalam kelompok yang  merasa paling tak diuntungkan.</p>
<p>Jika hipotesis ini benar, menjadi  tak relevan pernyataan tentang adanya regenerasi dalam partai ideologi  oleh Megawati. Katanya, ”Kemunculan tiga anak saya (dalam partai PDI-P)  adalah sesuatu yang menggembirakan. Hal itu sekaligus menjadi bukti  regenerasi tengah berjalan” (Kompas, 6/4). Dari situ tak sulit  menarik  pernyataan bahwa regenerasi tak  dimaksudkan sebagai penggantian  kepemimpinan berdasarkan ahli waris, melainkan  pada perwujudan  keterbukaan terhadap kader lain  membuktikan diri.</p>
<p>Kepemimpinan  yang berdasarkan garis kekerabatan hanya akan menimbulkan pergunjingan  berkepanjangan. Kiranya tak perlu diperdebatkan  adanya pertimbangan  garis kekerabatan dalam penyusuan daftar caleg, struktur kepengurusan  partai politik, hingga ”regenerasi kepemimpinan” dalam berbagai partai  politik di Indonesia yang dibesarkan atas nama Pancasila dan kebinekaan.  Dalam penjelasan sosiologi, kepemimpinan yang mengandalkan ikatan darah  (Gemeinschaften) hanya efektif dalam masyarakat yang memelihara  legitimasi supranatural.</p>
<p>Kita  butuh pemimpin ideologis yang   sanggup terbuka  menjawab pluralitas bangsa. Ideologi perlu ditafsirkan  ulang sebab figur pemimpin adalah manusia fana yang akan mati, sementara  ideologi akan terus hidup. Saifur Rohman <em>Dosen  Universitas  Semarang</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/652/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=652&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/kepemimpinan-tak-tergantikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Korupsi, Fasad, dan Jihad</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/korupsi-fasad-dan-jihad/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/korupsi-fasad-dan-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 10:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Korupsi, Fasad, dan Jihad Jumat, 9 April 2010 &#124; 04:01 WIB Oleh Azyumardi Azra Kasus Gayus Tambunan, pegawai golongan III A, dengan masa kerja kurang dari sepuluh tahun, dengan uang di sejumlah rekeningnya sekitar Rp 28 miliar, sekali lagi mengungkapkan betapa endemik dan latennya korupsi dalam kelembagaan birokrasi kita. Selain Gayus, ada lagi BA, mantan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=650&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Korupsi, Fasad, dan Jihad</div>
<p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita -->Jumat, 9 April 2010 | 04:01 WIB</p>
<p>Oleh <strong>Azyumardi Azra</strong></p>
<p>Kasus Gayus Tambunan, pegawai golongan III  A, dengan masa kerja kurang dari sepuluh tahun, dengan uang di sejumlah  rekeningnya sekitar Rp 28 miliar, sekali lagi mengungkapkan betapa  endemik dan latennya korupsi dalam kelembagaan birokrasi kita.</p>
<p>Selain Gayus, ada lagi BA, mantan kepala salah satu kantor pajak di  wilayah DKI Jakarta, yang memiliki rekening konon lebih dari Rp 70  miliar. Kasus-kasus ini hampir bisa dipastikan hanyalah ”puncak” dari  gunung es yang lebih besar, yang tersembunyi di bawah permukaan.</p>
<p>Kasus-kasus  ini memperlihatkan betapa rapuhnya kelembagaan birokrasi—dalam hal ini  Direktorat Jenderal Pajak—terhadap penyelewengan. Padahal, para pegawai  di instansi ini bertugas mengumpulkan dana wajib pajak untuk  ketersediaan keuangan negara; mereka seyogianya memelihara amanah, tak  menyerah pada godaan hawa nafsu untuk  korupsi karena kerakusan.</p>
<p>Pemberian  remunerasi kepada para pegawai pemungut pajak ini yang membuat mereka  mendapatkan take home pay yang berlipat-lipat terbukti belum cukup  memuaskan kerakusan. Ini membuat kian tercederainya rasa keadilan  publik.</p>
<p>Aparat birokrasi mana lagi yang bisa dipercayai publik?  Karena, mereka yang terlibat korupsi ternyata ada di hampir seluruh  lembaga penegak hukum dan keadilan, mulai  dari kepolisian, kejaksaan,  peradilan hingga hakim-hakimnya. Kita selalu berapologi dan ”menghibur  diri” dengan menyatakan, para pelaku tersebut hanyalah ”oknum-oknum”,  padahal publik juga melihat berbagai indikasi bahwa korupsi semacam itu  berlangsung  cukup sistemik di antara orang-orang di sebuah instansi  tertentu ataupun antarinstansi.</p>
<p><strong>Fasad dan  nafsu syaitaniyyah</strong></p>
<p>Mencermati skala endemi  korupsi seperti itu, tidak ragu lagi, ia telah menjadi ”kriminalitas  luar biasa”, yang pertama-tama telah merusak lembaga-lembaga birokrasi  pemerintahan dan penegak hukum. Tidak kurang negatifnya adalah rusaknya  trust, kepercayaan publik kepada aparat birokrasi dan penegak hukum.  Padahal, trust merupakan salah satu modal sosial yang instrumental untuk  membangun negara dan pemerintahan yang kredibel dan akuntabel sehingga  pada gilirannya dapat memajukan bangsa.</p>
<p>Pada segi ini, para  pelaku korupsi dari sudut pandang Islam telah melakukan fasad, kerusakan  yang bahkan luar biasa (mafsadat) terhadap kehidupan masyarakat,  pemerintahan, dan negara-bangsa. Lagi-lagi, dari sudut pandang Islam,  para pelaku kerusakan mestilah sama sekali tidak ditoleransi dalam  bentuk apa pun dan mereka wajib dijatuhi hukuman seberat-beratnya.  Mentoleransi dan berlaku ”lunak” (lenient) kepada mereka hanya membuat  publik dan negara yang menjadi korban  juga dapat hanyut dan tenggelam  dalam arus mafsadat.</p>
<p>Mafsadat, khususnya korupsi yang terutama  disebabkan kerakusan, bersumber dari hawa nafsu yang tidak terkendali,  yang dalam Islam disebut  al-nafs al-syaithaniyyah—hawa nafsu setan.  Karena itu, terdapat banyak ayat Al Quran yang memperingatkan manusia  untuk tak hanyut mengikuti hawa nafsu, yang bakal menjerumuskan diri ke  dalam kesesatan dan kehancuran di dunia dan  akhirat.</p>
<p>Manusia  yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsu setannya tidak hanya merusak  dirinya, tetapi sebagaimana dikemukakan dalam  Hadis Nabi Muhammad SAW,   juga merusak umat dan bangsa.  Nabi Muhammad SAW juga menyatakan, jihad   terbesar (al-jihad al-akbar) adalah jihad melawan hawa nafsu setan  yang dapat bernyala-nyala dalam diri manusia, yang membawanya ke dalam  berbagai tindakan mafsadat yang menghancurkan diri dan masyarakat  lingkungannya.</p>
<p><strong>Hukuman berat</strong></p>
<p>Merupakan  tanggung jawab lembaga dan ormas keagamaan untuk juga  berbicara lantang tentang mafsadat korupsi dan pada saat yang sama  memaklumkan jihad—dalam hal ini bermakna, bersungguh-sungguh—melawan  korupsi. Ini salah satu bentuk jihad, kesungguhan tekad dan tindakan,  yang sangat dibutuhkan negara-bangsa ini pada masa ini. Lebih daripada  itu, lembaga dan ormas keagamaan hendaknya mengembangkan berbagai bentuk  program jihad anti-korupsi dan terus  melakukan penyadaran publik  tentang pentingnya  bersama melakukan jihad, kesungguhan melawan korupsi  dalam berbagai bentuk.</p>
<p>Salah satu ”hikmah” positif  dari  terungkapnya kasus Gayus  dan juga BA adalah meningkatnya ”kemarahan”  publik terhadap korupsi. Terdapat kecenderungan kuat, publik  menginginkan hukuman seberat-beratnya terhadap koruptor. Bentuknya,   mulai dari hukuman mati seperti dikemukakan  Menhuk dan HAM Patrialis  Akbar, atau hukuman seumur hidup, penyitaan seluruh kekayaan, sampai  sanksi sosial,  dikeluarkan dari masyarakat adat, pengucilan sosial, dan  seterusnya.</p>
<p>Hemat saya, berbagai alternatif hukum ini sepatutnya  dapat segera diterapkan; tentu saja dengan tetap mempertimbangkan  tingkat  korupsi yang dilakukan. Namun, pada prinsipnya, dari sudut  hukum dan perundangan serta agama, hukuman maksimal mestilah diterapkan  kepada para koruptor tanpa pandang bulu dan tanpa ampun. Bahkan, dapat  pula dipertimbangkan penjara khusus  koruptor untuk membuat jera  sehingga mereka yang punya niat untuk mencuri dana publik  berpikir  seribu kali sebelum melakukan korupsi.</p>
<p>Para ahli fiqh (hukum  Islam) sepakat, hukuman berat terhadap pencuri kekayaan milik negara dan  publik sangat perlu dalam rangka menjaga kemaslahatan publik agar tidak  terjerumus ke dalam mafsadat yang dapat menghancurkan kehidupan  negara-bangsa, yang di dalamnya juga termasuk umat beragama.</p>
<p>Hukuman  berat juga  sangat penting dalam rangka menegakkan prinsip perlindungan  terhadap harta (hifdz al-maal), baik milik pribadi maupun milik negara  atau publik. Hifdz al-maal merupakan salah satu dari lima kemaslahatan  publik (al-kulliyat al-khamsah) yang mesti ditegakkan sungguh-sungguh  oleh negara dan pemerintah yang telah memperoleh otoritas (tawliyyah)  dari rakyat.  Jika kita masih juga gagal melakukan pemberantasan korupsi  sehingga para koruptor terus gentayangan dengan al-nafs  al-syaithaniyyahnya, negara-bangsa ini bakal terjerumus ke dalam jurang  fasad dan mafsadat tanpa dasar. Na’udzubillah min dzalik.</p>
<p>Azyumardi  Azra <em>Direktur Sekolah Pascasarjana  UIN  Syarif Hidayatullah, Jakarta</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/650/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/650/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=650&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/04/09/korupsi-fasad-dan-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>14 Cara Menumbuhkan Semangat Kerjasama di Sekolah</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/14-cara-menumbuhkan-semangat-kerjasama-di-sekolah/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/14-cara-menumbuhkan-semangat-kerjasama-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 22:06:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=648</guid>
		<description><![CDATA[Kerja sama merupakan salah satu fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Kerja sama memiliki dimensi yang sangat luas dalam kehidupan manusia, baik terkait tujuan positif maupun negatif.  Dalam hal apa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus bekerjasama dengan orang lain tergantung pada kompleksitas dan tingkat kemajuan peradaban orang tersebut. Semakin modern seseorang, maka ia akan  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=648&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kerja sama merupakan salah satu fitrah manusia sebagai mahluk sosial. Kerja sama memiliki dimensi yang sangat luas dalam kehidupan manusia, baik terkait tujuan positif maupun negatif.  Dalam hal apa, bagaimana, kapan dan di mana seseorang harus bekerjasama dengan orang lain tergantung pada kompleksitas dan tingkat kemajuan peradaban orang tersebut. Semakin modern seseorang, maka ia akan  semakin banyak bekerja sama dengan orang lain, bahkan seakan tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu tentunya dengan bantuan perangkat teknologi yang modern pula.</p>
<p><img src="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2009/03/kerjasama.jpg?w=600&amp;h=184" border="0" alt="Kerjasama" height="184" /></p>
<p>Bentuk kerjasama dapat dijumpai pada semua kelompok orang dan usia. Sejak masa kanak-kanak, kebiasaan bekerjasama sudah diajarkan di dalam kehidupan keluarga. Setelah dewasa, kerjasama akan semakin berkembang dengan banyak orang untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pada taraf ini, kerjasama tidak hanya didasarkan hubungan kekeluargaan, tetapi semakin kompleks. Dasar utama dalam kerja sama ini adalah keahlian, di mana masing-masing orang yang memiliki keahlian berbeda, bekerja bersama menjadi satu kelompok/tim dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. <a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/" target="_blank">Kerja sama </a>tersebut adakalanya harus dilakukan dengan orang yang sama sekali belum dikenal, dan begitu berjumpa langsung harus bekerja bersama dalam sebuah kolempok. Oleh karena itu, selain keahlian juga dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri dalam setiap lingkungan atau bersama segala mitra yang dijumpai.</p>
<p>Dari sudut pandang sosiologis, pelaksanaan kerjasama antar kelompok masyarakat ada tiga bentuk, yaitu: (a) <strong><em>bargaining</em></strong> yaitu kerjasama antara orang per orang dan atau antarkelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan suatu perjanjian saling menukar barang, jasa, kekuasaan, atau jabatan tertentu, (b) <strong><em>cooptation</em></strong> yaitu kerjasama dengan cara rela menerima unsur-unsur baru dari pihak lain dalam organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan stabilitas organisasi, dan (c) <em>coalition</em> yaitu kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Di antara oganisasi yang berkoalisi memiliki batas-batas tertentu dalam kerjasama sehingga jati diri dari masing-masing organisasi yang berkoalisi masih ada. Bentuk-bentuk kerjasama di atas biasanya terjadai dalam dunia politik (Soekanto, 1986).</p>
<p>Selain pandangan sosiologis, kerjasama dapat pula dilihat dari sudut manajemen yaitu dimaknai dengan istilah <em>collaboration</em>. Makna ini sering digunakan dalam terminologi manajemen pemberdayaan staf yaitu satu kerjasama antara manajer dengan staf dalam mengelola organisasi. Dalam manajemen pemberdayaan, staf bukan dianggap sebagai bawahan tetapi dianggap mitra kerja dalam usaha organisasi (Stewart, 1998).</p>
<p><a href="http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/02/24/" target="_blank">Kerja  sama</a> (<em>collaboration</em>) dalam pandangan Stewart merupakan bagian dari kecakapan ”manajemen baru” yang belum nampak pada manajemen tradisional. Dalam bersosialisasi dan berorganisasi, bekerjasama memiliki kedudukan yang sentral karena esensi dari kehidupan sosial dan berorganisasi adalah kesepakatan bekerjasama. Tidak ada organisasi tanpa  kerjasama. Bahkan dalam pemberdayaan organisasi, kerjasama adalah tujuan akhir dari setiap program pemberdayaan. Manajer akan ditakar keberhasilannya dari seberapa mampu ia menciptakan kerjasama di dalam organisasi (<em>intern</em>), dan menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di luar organisasi (<em>ekstern</em>).</p>
<p>Sekolah adalah sebuah oganisasi. Di dalam sekolah terdapat struktur organisasi, mulai kepala sekolah, wakil kepala, dewan guru, staf, komite sekolah, dan tentu saja siswa-siswi. Dalam sekolah terdapat kurikulum dan pembelajaran, biaya, sarana, dan hal-hal lain yang harus direncanakan, dilaksankan, dipimpin, dan diawasi, yang kesemuanya itu bermuara pada hubungan kerja sama atau <em>human relation</em>.</p>
<p>Terkait dengan cara menumbuhkan semangat kerjasama di lingkungan sekolah, Michael Maginn (2004) mengemukakan 14 (empat belas) cara, yakni:</p>
<ol>
<li><strong><em>Tentukan tujuan bersama dengan jelas</em></strong>. Sebuah tim bagaikan sebuah kapal yang berlayar di lautan luas. Jika tim tidak memiliki tujuan atau arah yang jelas, tim tidak akan menghasilkan apa-apa.  Tujuan memerupakan pernyataan apa yang harus diraih oleh tim, dan memberikan daya memotivasi setiap anggota untuk bekerja. Contohnya, sekolah yang telah merumuskan visi dan misi sekolah hendaknya menjadi tujuan bersama. Selain mengetahui tujuan bersama, masing-masing bagian seharusnya mengetahui tugas dan tanggungjawabnya untuk mencapai tujuan bersama tersebut.</li>
<li><strong><em>Perjelas keahlian dan tanggung jawab anggota</em></strong>. Setiap anggota tim harus menjadi pemain di dalam tim. Masing-masing bertanggung jawab terhadap suatu bidang atau jenis pekerjaan/tugas. Di lingkungan sekolah, para guru selain melaksanakan proses pembelajaran biasanya diberikan tugas-tugas tambahan, seperti menjadi wali kelas, mengelola laboratorium, koperasi, dan lain-lain. Agar terbentuk kerja sama yang baik, maka pemberian tugas tambahan tersebut harus didasarkan pada keahlian mereka masing-masing.</li>
<li><strong><em>Sediakan waktu untuk menentukan cara bekerjasama</em></strong>. Meskipun setiap orang telah menyadari bahwa tujuan hanya bisa dicapai melalui kerja sama, namun bagaimana kerja sama itu harus dilakukan perlu adanya pedoman. Pedoman tersebut sebaiknya merupakan kesepakatan semua pihak yang terlibat. Pedoman dapat dituangkan secara tertulis atau sekedar sebagai konvensi.</li>
<li><strong><em>Hindari masalah yang bisa diprediksi</em></strong>. Artinya mengantisipasi masalah yang bisa terjadi.  Seorang pemimpin yang baik harus dapatmengarahkan anak buahnya untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul, bukan sekedar menyelesaikan masalah. Dengan mengantisipasi, apa lagi kalau dapat mengenali sumber-sumber masalah, maka organisasi tidak akan disibukkan kemunculan masalah yang silih berganti harus ditangani.</li>
<li><strong><em>Gunakan konstitusi atau aturan tim yang telah disepakati bersama</em></strong>. Peraturan tim akan banyak membantu mengendalikan tim dalam menyelesaikan pekerjaannya dan menyediakan petunjuk ketika ada hal yang salah. Selain itu perlu juga  ada konsensus tim dalam mengerjakan satu pekerjaan..</li>
<li><strong><em>Ajarkan rekan baru satu tim</em></strong> agar anggota baru mengetahui bagaimana tim beroperasi dan bagaimana perilaku antaranggota tim berinteraksi. Yang dibutuhkan anggota tim adalah gambaran jelas tentang cara kerja, norma, dan nilai-nilai tim. Di lingkungan sekolah ada guru baru atau guru pindahan dari sekolah lain, sebagai anggota baru yang baru perlu ”diajari” bagaimana bekerja di lingkungan tim kerja di sekolah. Suatu sekolah terkadang sudah memiliki budaya saling pengertian, tanpa ada perintah setiap guru mengambil inisiatif untuk menegur siswa jika tidak disiplin. Cara kerja ini mungkin belum diketahui oleh guru baru sehingga perlu disampaikan agar tim sekolah tetap solid dan kehadiran guru baru tidak merusak sistem.</li>
<li><strong><em>Selalulah bekerjasama</em></strong>, caranya dengan membuka pintu gagasan orang lain. Tim  seharusnya menciptakan lingkunganyang terbuka dengan gagasan  setiap anggota. Misalnya sekolah sedang menghadapi masalah keamanan dan ketertiban, sebaiknya dibicarakan secara bersama-sama sehingga kerjasama tim dapat berfungsi dengan baik.</li>
<li><strong><em>Wujudkan gagasan menjadi kenyataan</em></strong><em>.</em> Caranya dengan menggali atau memacu kreativitas tim dan mewujudkan menjadi suatu kenyataan. Di sekolah banyak sekali gagasan yang kreatif, karena itu usahakan untuk diwujudkan agar tim bersemangat untuk meraih tujuan. Dalam menggali gagasan perlu mencari kesamaan pandangan.</li>
<li><strong><em>Aturlah perbedaan secara aktif</em></strong>. Perbedaan pandangan atau bahkan konflik adalah hal yang biasa terjadi di sebuah lembaga atau organisasi. Organisasi yang baik dapat memanfaatkan perbedaan dan mengarahkannya sebagai  kekuatan untuk memecahkan masalah. Cara yang paling baik adalah mengadaptasi perbedaan menjadi bagian konsensus yang produktif.</li>
<li><strong><em>Perangi virus konflik</em></strong>, dan jangan sekali-kali ”memproduksi” konflik. Di sekolah terkadang ada saja sumber konflik misalnya pembagian tugas yang tidak merata ada yang terlalu berat tetapi ada juga yang sangat ringan. Ini sumber konflik dan perlu dicegah agar tidak meruncing. Konflik dapat melumpuhkan tim kerja jika tidak segera ditangani.</li>
<li><strong><em>Saling percaya</em></strong><em>.</em> Jika kepercayaan antaranggota hilang, sulit bagi tim untuk bekerja bersama. Apalagi terjadi, anggota tim cenderung menjaga jarak, tidak siap berbagi informasi,  tidak terbuka dan saling curiga.. Situasi ini tidak baik bagi tim. Sumber saling ketidakpercayaan di sekolah biasanya  berawal dari  kebijakan yang tidak transparan atau konsensus yang dilanggar oleh pihak-pihak tertentu dan kepala sekolah tidak bertindak apapun. Membiarkan situasi yang saling tidak percaya antar-anggota tim dapat memicu konflik.</li>
<li><strong><em>Saling memberi penghargaan</em></strong><em>.</em> Faktor nomor satu yang memotivasi karyawan adalah perasaan bahwa mereka telah berkontribusi terhadap pekerjaan danm prestasi organisasi. Setelah sebuah pekerjaan besar selesai atau ketika pekerjaan yang sulit membuat tim lelah, kumpulkan anggota tim untuk merayakannya. Di sekolah dapat dilakukan sesering mungkin setiap akhir kegiatan besar seperti akhir semester, akhir ujian nasional, dan lain-lain.</li>
<li><strong><em>Evaluasilah tim secara teratur</em></strong><em>.</em> Tim yang efektif akan menyediakan waktu untuk melihat proses dan hasil kerja tim. Setiap anggota diminta untuk berpendapat tentang kinerja tim, evaluasi kembali tujuan tim, dan konstitusi tim.</li>
<li><strong><em>Jangan menyerah</em></strong><em>.</em> Terkadang tim menghadapi tugas yang sangat sulit dengan kemungkinan untuk berhasil sangat kecil. Tim bisa menyerah dan mengizinkan kekalahan ketika semua jalan kreativitas dan sumberdaya yang ada telah dipakai. Untuk meningkatkan semangat anggotanya antara lain dengan cara memperjelas mengapa tujuan tertentu menjadi penting dan begitu vital untuk dicapai. Tujuan merupakan sumber energi tim. Setelah itu bangkitkan kreativitas tim yaitu dengan cara menggunakan kerangka fikir dan pendekatan baru terhadap masalah.</li>
</ol>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<p>Soekanto, S. 1986. <em>Sosiologi Suatu Pengantar</em>. Jakarta: Rajawali Pers.</p>
<p>Maginn, M. 2004. <em>Making Teams Work: 24 Poin Penting Seputar Kesuksesan dalam Bekerjasama.</em> Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.</p>
<p>Stewart, A. 1998. <em>Empowering People</em>. Yogyakarta: Kanisius.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/648/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=648&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/14-cara-menumbuhkan-semangat-kerjasama-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2009/03/kerjasama.jpg?w=600&#38;h=184" medium="image">
			<media:title type="html">Kerjasama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Gerakan Islam Terjun Ke Ranah Politik (1)</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-1/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 21:59:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[Partai dan gerakan Islam di negara-negara Arab telah mendapatkan kepentingan politik yang besar dengan membuat pilihan strategis untuk berpartisipasi dalam proses dan hukum politik untuk mendapatkan legitimasi konstitusi. Partisipasi politik mereka telah melahirkan dua masalah utama baik di dunia Arab dan di Barat. Pertama, adakah partai-partai dan gerakan ini benar-benar berkomitmen untuk demokrasi? Dan kedua, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=646&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tanggal"><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?url=http://www.eramuslim.com/berita/gerakan-dakwah/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik.htm"></a></div>
<div>
<p><img src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic1.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Partai dan gerakan Islam di negara-negara Arab telah mendapatkan kepentingan politik yang besar dengan membuat pilihan strategis untuk berpartisipasi dalam proses dan hukum politik untuk mendapatkan legitimasi konstitusi. Partisipasi politik mereka telah melahirkan dua masalah utama baik di dunia Arab dan di Barat.</p>
<p>Pertama, adakah partai-partai dan gerakan ini benar-benar berkomitmen untuk demokrasi? Dan kedua, apakah partisipasi itu sendiri akan memperkuat komitmen mereka terhadap norma-norma dan prosedur yang demokratis? Pengalaman berpartisipasi dan gerakan partai Islam di Maroko, Aljazair, Mesir, Yordania, Bahrain, dan Yaman, serta pihak-pihak bersenjata di Lebanon dan Palestina, mengungkapkan gambar yang kompleks.</p>
<p>Komitmen terhadap demokrasi bukanlah pilihan yang mudah bagi partai Islam. Ini melibatkan beberapa masalah ideologis berduri serta beberapa pilihan taktis, dan mau tak mau, pragmatis.</p>
<p><img src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic2.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Pada tingkat ideologis, ada ketegangan mendasar dalam partai dan gerakan Islam dalam wacana gagasan bahwa hukum harus didasarkan pada firman Allah; dengan demikian sesuai dengan hukum Islam atau syariah, bahwa dalam sistem politik yang demokratis, undang-undang yang dibuat pada dasar mayoritas oleh parlemen adalah yang dipilih secara bebas oleh warga negara.</p>
<p>Sebuah partai tidak bisa menyebut dirinya Islamis dan mempertahankan dukungan dari pengikut Muslim taat jika mengumumkan syariah bukan sebagai dasar perundang-undangan. Pada saat yang sama, partai yang tidak bisa menyebut dirinya demokratis, berjuang untuk memilih para kandidat ke parlemen, dan bergabung bersama-sama dengan partai lain dalam membela oposisi yang lebih terbuka harus mengakui hal-hal yang lebih mengikat.</p>
<p>Ketegangan antara Islam dan pandangan demokratis belum sepenuhnya diselesaikan oleh satu pihak atau gerakan. Hasil dari ketegangan ini adalah bahwa pemikiran politik Islam berisi sejumlah zona abu-abu mengenai tempat hukum Islam dalam undang-undang, penggunaan kekerasan sebagai alat oposisi, batas-batas pluralisme politik, sipil dan hak-hak politik individu versus kebaikan masyarakat, dan posisi perempuan dan kaum minoritas di dalam masyarakat yang lebih luas.</p>
<p>Akibatnya, konstalasi ideologis dan perjuangan politik menyatakan bahwa syariah harus menjadi standar legitimasi hukum dari semua nilai, versus penerimaan hukum-hukum yang disampaikan sesuai dengan prosedur yang demokratis.</p>
<p><img src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic3.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Ini adalah hasil dari perjuangan yang akan menentukan apakah partai Islam tetap berkomitmen untuk demokrasi ataukah bagaimana. Organisasi Islam yang berpartisipasi dalam politik memiliki sifat ganda sebagai aktor-aktor politik dan agama, dan mereka menghadapi kerancuan ideologis. Sebagai aktor religius, mereka harus mematuhi prinsip-prinsip mutlak. Sebagai aktor politik, mereka membutuhkan fleksibilitas untuk menunjukkan kesediaan untuk berkompromi. Beberapa partai dan gerakan mencoba memecahkan teka-teki dengan mendirikan partai politik yang terpisah dari gerakan keagamaan. Pemisahan memungkinkan gerakan keagamaan untuk berurusan dengan nilai-nilai mutlak, sedangkan partai terjun ke dunia pragmatis politik yang kompromis.</p>
<p>Di Maroko, Aljazair, Yordania, Yaman, Bahrain, dan Kuwait sekarang ada partai-partai Islam yang terpisah dari gerakan-gerakan keagamaan. Di Mesir, Ikhwan terus menjadi organisasi yang dilarang, karena itu mendirikan partai politik tidak pernah menjadi alternatif realistis.</p>
<p><img src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic4.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Memisahkan agama dan komponen politik, bagaimanapun, menciptakan tantangan baru. Partai bisa kehilangan dukungan dari anggota jika piatu terlalu jauh. Ini adalah masalah serius bagi Partai Keadilan dan Pembangunan (PJD) di Maroko, misalnya. PJD berafiliasi dengan gerakan keagamaan yang disebut al-Tawhid wal Islah (persatuan dan reformasi). Sebagai gerakan keagamaan, al-Tawhid bersaing dengan gerakan keagamaan lain, al-Adl wal Ihsan (keadilan dan amal).</p>
<p>Al-Adl, yang diyakini memiliki basis rakyat yang jauh lebih besar, tidak mengakui legitimasi negara dan kerajaan Maroko, dan tetap menjaga jarak dari politik. Jika PJD terlalu jauh dari doktrin atau membuat terlalu banyak kompromi untuk memperoleh posisi politik yang lebih luas, risiko mereka adalah kehilangan pengikutnya yang berpaling kepada al-Adl.</p>
<p>Masalah sulit lainnya bagi partai dan gerakan Islam adalah pluralisme politik. Mereka semua menerima pluralisme politik; dan sebaliknya mereka tidak bisa berpartisipasi dalam politik elektoral. Sulit bagi sebuah partai berbasis agama memindahkan atau mengakui legitimasi semua sudut pandang. Sepanjang dua dekade terakhir, semua partisipasi gerakan Islam telah jauh menerima keragaman pandangan dalam arena politik. Tapi berkenaan dengan moral, sosial, dan isu-isu budaya, mereka masih tertinggal di belakang.</p>
<p><img src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic5.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Misalnya, Ikhwan Mesir menetapkan bahwa Kristen Koptik (dan perempuan) tidak dapat dipilih untuk jadi presiden. Klausul ini menjadi bahan perdebatan, karena kebingunan internal dan kemarahan eksternal, bahwa isyu pluralisme telah menjebak erat dalam sebuah keputusan yang mesti bisa memenangkan hati dan ideologi semua orang. (<em>bersambung</em>). (sa/iw</p>
<p>Dikutif dari www.eramuslim.com</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/646/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=646&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/ketika-gerakan-islam-terjun-ke-ranah-politik-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic4.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/gerakan_islam/0politicarabic5.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Teroris, Obama, dan Simbiosis Mutualisme</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/teroris-obama-dan-simbiosis-mutualisme/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/teroris-obama-dan-simbiosis-mutualisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 21:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=644</guid>
		<description><![CDATA[Setelah drama penangkapan Noordin M Top, tahun lalu, ‘proyek’ terorisme sempat istirahat. Kini di tengah gonjang-ganjing kasus Century, hingar bingar rencana kedatangan Obama ke Indonesia, dan citra polisi yang kian memburuk; tiba-tiba drama terorisme dihidupkan lagi. Apakah ada kaitannya? Sebelum semua itu terjawab, masih banyak pertanyaan lain yang mengganjal di benak kita. Antara lain, kenapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=644&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tanggal"><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?url=http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/rudi-agung-teroris-obama-dan-simbiosis-mutualisme.htm"></a></div>
<p>Setelah drama penangkapan Noordin M Top, tahun lalu, ‘proyek’ terorisme sempat istirahat. Kini di tengah gonjang-ganjing kasus Century, hingar bingar rencana kedatangan Obama ke Indonesia, dan citra polisi yang kian memburuk; tiba-tiba drama terorisme dihidupkan lagi. Apakah ada kaitannya?</p>
<p>Sebelum semua itu terjawab, masih banyak pertanyaan lain yang mengganjal di benak kita. Antara lain, kenapa setiap terjadi penggrebekan teroris selalu berakhir dengan korban penembakan? Mengapa setiap kejadian penangkapan yang diduga teroris harus dibunuh, tewas, tanpa kata, tanpa pesan? Tidak ada yang tahu apa kegundahan mereka sebagai seorang Muslim.</p>
<p>Sebaliknya, kita juga tak mampu menerka dalil apa yang digunakan densus atau aparat terkait yang langsung membunuh. Padahal, setiap orang berhak untuk hidup meski ia seorang perampok. Bahkan bila menggunakan dalil hak asasi manusia, bukankah para terduga juga berhak mendapatkan hak itu? Lalu kenapa ditembak hingga mati?</p>
<p>Bila memang terduga melawan, kenapa tak dilumpuhkan saja? Bukankah kesalahan mereka belum terbukti. Atau katakanlah mereka melawan, tapi siapa yang bisa melihatnya langsung selain polisi? Begitu banyak pertanyaan mengganjal yang belum terjawab. Tindakan reprsesif bukanlah solusi. Curiga boleh, tapi tak harus membuat mati seseorang.</p>
<p>Saya merasa masygul. Kenapa modusnya selalu berulang dan berakhir dengan kematian. Kenapa masyarakat seolah terhipnotis terbawa konstruksi opini publik yang diciptakan media melalui keterangan polisi. Sering kali teroris diidentikkan dengan pria berjenggot, wanita bercadar, atau celana menggantung. Atau orang-orang yang ‘terkontaminasi’ dengan ‘ceramah kekerasan’? Tak adakah lembaga independen yang bisa dijadikan second opinion? Saya pun masygul karena kita tak mampu memperjelas keadaan, mendengar atau menjembatani keluhan mereka yang (diduga) teroris.</p>
<p>Termasuk terhadap kasus ‘pembunuhan yang dilegalkan’ pada Selasa (9/3), dimana tiga orang yang (baru) diduga teroris kembali tewas akibat penyergapan Densus di Pamulang. Satu di antaranya, seorang wanita yang menggunakan cadar ikut diberondong peluru. Siapa pun tahu, wanita bercadar adalah simbol dari wanita Muslimah. Bisa saja nantinya Islam kembali akan mendapat stigma buruk. Dan mungkin, proyek terorisme ini masih terus berlanjut.</p>
<p>Logika saya pun masih tak mampu menemukan jawabannya: Bagaimana seorang wanita bercadar ditembak dengan tiga peluru, tanpa sedikit pun diberi maaf. Toh, kita belum tahu apa kesalahannya. Mengapa harus ditembak di antara perumahan warga yang jalannya sempit. Secara logika, apakah sebegitu membahayakannya wanita itu hingga harus dibunuh? Apalagi sedang berada di motor. Kenapa bukan motornya saja yang dilumpuhkan, lalu orangnya ditangkap. Ada apa sesungguhnya dengan aksi terorisme di negeri ini?</p>
<p>Sebab jika pun ada terduga yang ditangkap hidup-hidup, polisi belum mampu membuktikannya bahwa orang itu benar-benar teroris. Contohnya, Abu Bakar Basyr serta Abu Jibril. Mereka tidak terbukti terlibat terorisme seperti yang dituduhkan. Akhirnya dilepaskan meski sempat merasakan penahanan. Anehnya, tidak ada pemulihan nama baik yang diberikan.</p>
<p>Bahkan Muhammad Jibril, anak dari Abu Jibril, yang kini masih dalam proses persidangan dituduh dengan pasal berbeda. Ketika ditangkap ia dituding ikut membiayai Al Qaidah. Tapi di persidangan, jaksa justru memasukkan pasal karet yang terkait dengan imigrasi. Dakwaan dan pembuktiannya sangat lemah. Keterangan hasil persidangan ini disampaikan Abu Jibril pada Tv One (9/3) malam.</p>
<p>Lalu, sudah sejauh mana bentuk pertanggung jawaban densus/polisi terkait rumah warga atau tempat-tempat lain yang rusak akibat adanya penyergapan? Apalagi tempat-tempat itu bisa menyisakan kenangan buruk bagi warga setempat. Ini pertanyaan lain yang seharusnya bisa dijelaskan polisi ke publik.</p>
<p><strong>Siapa yang Teroris</strong></p>
<p>Beredar kabar, proyek teroris ini dikait-kaitkan dengan kedatangan Obama ke Indonesia. Apakah mungkin ada relevansinya? Ataukah memang cuma kebetulan? Entahlah, hal ini perlu penelitian dan pembuktian lebih lanjut. Tapi satu hal yang pasti, aksi terorisme di Indonesia memang selalu berkaitan dengan stigma buruk Islam dan istilah jihad yang diperdebatkan.</p>
<p>Tak jarang pula pesantren diobok-obok musuh Islam. Hampir setiap kejadian teroris di negeri ini dikaitkan dengan pesantren. Pelaku yang diduga teroris selalu dihubungkan dengan alumni pesantren A atau pesantren B. Tapi mengapa bila terjadi pembunuhan lain, sang pelaku tak pernah dikaitkan alumni dari mana. Bahkan bila kita ingat kasus di Poso, Tibo pernah menyebutkan 16 nama yang terlibat. Tapi, mengapa hanya berhenti sampai Tibo. Begitu pula dengan Alex Manuputty, kenapa berhenti. Bila kasus dugaan teroris &#8211;yang melibatkan kaum Muslim—selalu ditangkap dan dibunuh.</p>
<p>Gambaran ini seolah menunjukkan kasus teroris adalah konstruksi apik hasil konspirasi terselubung musuh-musuh Islam dengan membuat citra Islam semakin buruk serta mengadu domba umat dengan memecah belah dan membuat dikotomi gerakan-gerakan Islam; seperti Islam fundamentalis, fanatisme, radikal, dan sebagainya. Padahal Islam adalah Islam. Rahmatan lil Alamin.</p>
<p>Perang terhadap teroris telah lama digagas Bush sejak peristiwa 11/9. Amerika pun mengajak seluruh dunia untuk memerangi teroris. Padahal itu adalah perang terhadap Islam. Bagaimana invasi AS ke Irak, Afghanistan, dan invasi ke negara Islam penghasil minyak bumi lainnya terus diincar AS dengan dalih macam-macam. Sasarannya mengambil keuntungan kandungan minyak bumi melimpah dan menghancurkan negeri Islam.</p>
<p>Indonesia pun ikut menjadi sasaran. AS dan sekutunya enggan melihat Islam berkembang kuat di Indonesia, termasuk ingin meraup sumber daya alam kita yang melimpah.</p>
<p>Bagaimana Obama? Ia tak jauh berbeda dengan seniornya. Dusta demi dusta Obama kepada dunia Islam telah ia torehkan dalam sejarah. Penutupan Guantanamo, penarikan pasukan di Irak, penambahan pasukan ke Afghanistan, masalah Palestina, pembelaan AS kepada Israel; satu bukti kecil bahwa Obama tak berbeda jauh dengan para seniornya.</p>
<p>Bagaimana bisa pembantaian anak-anak di Palestina dibiarkan begitu saja? Belum lagi kejahatan perang yang dilakukan terhadap negara Islam lainnya? Di Indonesia, umat dipecah belah. Diracuni dengan mencuci otak umat Islam dengan dalih pertukaran pelajar atau beasiswa pendidikan. Bahkan Bush sendiri menggelontorkan dana sekitar 157 juta US Dolar hanya untuk merubah kurikulum pesantren. Jadi siapa yang sebenarnya teroris?</p>
<p><strong>Pengalihan Isu dan Konstruksi Citra Positif</strong></p>
<p>Sementara tiga bulan terakhir kasus Century menyita perhatian bangsa ini. Pansus pun akhirnya menghasilkan keputusan dengan memilih Opsi C dimana kasus ini diduga terdapat pelanggaran dan harus diteruskan ke ranah hukum. Tapi ICW mensinyalir akan ada pengalihan isu untuk mengubur kasus hukum Century yang melibatkan Wapres dan Menku.</p>
<p>Pertanyaannya, mungkinkah terorisme dihidupkan kembali sebagai pengalihan isu? Apalagi citra polisi dan densus kian terpuruk. Contohnya kasus terhangat adanya kasus pengrusakan kantor cabang HMI di Makassar yang melibatkan oknum dari Densus. Dimana-mana kantor Polda di demo.</p>
<p>Dan, bukankah ketika dulu polisi menggerebek teroris, citranya sempat terangkat begitu tinggi. Lalu, bukankah ketika ada kasus besar Cicak-Buaya dan Century, SBY lambat memberikan komentarnya. Sementara setiap ada isu terorisme ia begitu cepat merespon dengan memuji kepolisian. Jadi, apa iya penyergapan di Aceh dan Pamulang-atau nanti bila ada lagi- hanya dilakukan untuk mengangkat citra positif aparat sekaligus mengubur kasus Century? Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. <em>Wallahu ‘Alam</em></p>
<p><em>Sumber : eramuslim.com<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/644/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=644&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/teroris-obama-dan-simbiosis-mutualisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Tercantik</title>
		<link>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/wanita-tercantik/</link>
		<comments>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/wanita-tercantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 21:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>usep saefurohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usepsaefurohman.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingatkah kisah Penyihir Jahat dalam cerita Snow With? Penyihir bertubuh ramping, berbibir tipis dengan jemari yang sangat lentik dan berkuku tajam? Dengan hidungnya yang terlalu mancung, membuatnya menjadi bukan hanya cantik tetapi sekaligus menyeramkan, dan berkali kali dia bertanya kepada cermin, ”Wahai cermin, cerminku yang ajaib. Siapakah wanita tercantik di dunia ini?” Jawab cermin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=642&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tanggal"><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?url=http://www.eramuslim.com/wanita-bicara/wanita-tercantik.htm"></a></div>
<p><img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/muslimah/muslimah.jpg" alt="" width="370" /></p>
<p>Masih ingatkah kisah Penyihir Jahat dalam cerita Snow With? Penyihir bertubuh ramping, berbibir tipis dengan jemari yang sangat lentik dan berkuku tajam? Dengan hidungnya yang terlalu mancung, membuatnya menjadi bukan hanya cantik tetapi sekaligus menyeramkan, dan berkali kali dia bertanya kepada cermin, ”Wahai cermin, cerminku yang ajaib. Siapakah wanita tercantik di dunia ini?” Jawab cermin yang agak ketakutan, ”Dulu memang kamu, tapi sekarang ssssssnooww white hffhhhp&#8230;.. Desis cermin khawatir dirinya pecah terkena pukulan Si Penyihir Jahat. Dan ketika melihat bedanya Snow White dangan Si Penyihir, sejenak kita akan melihat perbedaan dan kemudian menyetujui bahwa si cermin benar. Bahwa Snow White lebih cantik dari Sang Penyihir, tetapi bukanlah yang tercantik di dunia ini! Lalu, siapakah wanita tercantik di dunia ini? Jawabannya tergantung pada bagaimana media menampilkan sosok wanita dalam berbagai tampilan.</p>
<p>Hampir semua orang di dunia ini sepakat bahwa wanita tercantik adalah wanita yang memiliki tubuh ramping, pinggang kecil, betis membujur, rambut panjang dan pirang, kulit putih, bibir kecil dan penuh, hidung mancung, dan mata berbinar. Subhanallah bila melihat bagaimana kita di Indonesia dengan kulit sawo matang yang ada dimana mana, dan hampir bisa dipastikan bahwa sebagai wanita berkulit sawo matang, akan mengundurkan diri dari balik cermin Si Penyihir.</p>
<p>Kita tidak akan masuk kriteria wanita tercantik itu. Kemudian kita menggunakan cream pemutih wajah, jamu peramping perut dan conditioner herbal penumbuh rambut agar panjang dan ikal. Ini semua menjadikan wanita menjadi tidak percaya diri terhadap inner beauty yang telah ALLOH berikan padanya sejak lahir, dan akan menunjukkan auranya ketika sudah mencapai akil baligh. Sekarang kalau ditanya siapakah wanita yang tercantik atau dianggap cantik di muka bumi ini? Maka persepsi yang ditanamkan media, dengan dipelopori dunia barat, segera menunjuk gadis berkulit putih yang tinggi semampai, dan rambut pirang kecoklatan, berbaju sexy terbuka, memperlihatkan aurat yang harusnya ditutupi dan menjadikan semua terbuka agar semakin nampak kecantikannya. Apabila telah terpilih sebagai wanita tercantik di seluruh dunia, maka semua wanita akan berlomba untuk mengikuti gaya dan penampilan sang wanita tercantik di seluruh dunia ini.</p>
<p>Bila kondisi si wanita tidak memiliki kulit putih, tidak bertubuh ramping dan tidak berambut panjang, maka dengan wajah malu dan rupa minder sang wanita beranjak ke belakang dan merasa dirinya buruk. Masya ALLOH, padahal sudah jelas dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ALLOH menciptakan manusia dengan sebaik baik bentuk : <em>“Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim”</em> artinya : <em>&#8220;Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.&#8221; </em>( Qs. 95 : 4 )<em>.</em> Siapakah yang membuat standar penilaian terhadap ciptaan ALLOH yang Maha Kuasa? Wahai para wanita percayalah bahwa wanita tercantik adalah wanita yang mampu memahami bahwa dia diciptakan dengan sebaik baik bentuk dan dia diciptakan adalah untuk beribadah: <em>“wa maa kholaqtuljinna wal insa illa liya’buduun”</em> artinya : <em>&#8220;Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.&#8221; </em>(Qs. 51 : 56).<strong><br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/usepsaefurohman.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/usepsaefurohman.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=usepsaefurohman.wordpress.com&amp;blog=11399913&amp;post=642&amp;subd=usepsaefurohman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usepsaefurohman.wordpress.com/2010/03/11/wanita-tercantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b2db837be5bbdbbe6f9037139b04d6bd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">usep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/muslimah/muslimah.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
