Sang Profesor

Gaya Mengajar Guru Adalah Gaya Belajar Siswa

Posted on: Januari 26, 2010

Oleh : USEP SAEFUROHMAN

ISMIRA, seorang siswa SD, memiliki kecerdasan spasial-visual dan musikal. Selama di kelas, ia mudah lelah dan cepat bosan serta paling tidak bisa duduk manis mendengarkan ceramah gurunya. Ia lebih suka coret-coret dan bersenandung sendirian.

Apa yang disampaikan gurunya nyaris tidak bisa dicernanya secara baik. Namun itu tidak menjadi masalah bagi guru cerdas yang mempunyai kombinasi pilihan obat mujarab yang dapat dikombinasikan dengan kecerdasan yang dimiliki Ismira. Dalam proses pembelajaran, sang guru mengajarkan kosa kata bahasa dengan alunan ritme lagu, sering menggunakan instrumen bergambar, dan mengajak siswa belajar di alam bebas yang terbuka dengan mengamati langsung dan merasakan sendiri materi pelajaran.

Hasilnya, pembelajaran yang dirasakan siswa menjadi lebih menyenangkan, kepercayaan diri Ismira melejit, semakin mudah menguasai materi belajar, dan ia tumbuh menjadi anak yang mandiri. Inilah salah satu contoh kesesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa.

Setiap manusia terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini juga ditambah dengan pengaruh lingkungan yang melingkupi pengalaman hidup manusia. Hasilnya, kombinasi perbedaan genetik dan perbedaan pengalaman hidup tersebut mentransformasikan seorang manusia menjadi individu yang memiliki karakter dasar yang unik. Sayangnya, tidak semua pihak menyadari keragaman karakter seseorang tersebut.

Dalam dunia sekolah kita yang serba seragam, perbedaan karakter siswa kerap menjadi masalah bagi pihak sekolah dan guru, khususnya yang langsung bersentuhan dengan siswa dalam proses pembelajaran. Adanya siswa yang “berbeda” dengan karakter siswa normal yang lain kerap kali dianggap nakal, gagal, bodoh, lambat, bahkan dianggap siswa yang punya keterbelakangan mental. Jika kita renungkan lebih dalam, ternyata bukan mereka yang bermasalah, melainkan sebenarnya mereka mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran karena tidak mampu mencerna materi yang diberikan oleh guru.

Bobbi dePorter, Presiden Learning Forum California USA dan penulis buku Quantum Learning dan Quantum Teaching, menjelaskan bahwa proses pembelajaran dapat divisualisasikan dengan membayangkan diri kita berada dalam ruangan yang gelap gulita. Ketika sebuah senter dinyalakan, selisih waktu antara munculnya cahaya yang terpantul ke dinding dengan saat jari kita menekan tombol “on” pada senter tersebut sangat cepat, bahkan hampir bersamaan. Begitu juga dalam proses pembelajaran, seharusnya kecepatan otak siswa dalam menangkap materi dan informasi dari guru adalah 1.287 km per jam, sama dengan kecepatan cahaya yang keluar dari senter yang memantul ke dinding. Tapi kenapa banyak siswa yang bingung, lambat, bahkan gagal dalam mencerna materi belajar dari guru?

Ternyata, banyaknya siswa yang dianggap lambat dan gagal menerima materi dari guru disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Sebaliknya, jika gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan. Guru akan merasa senang karena menganggap semua siswanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya.

Munif Chatib mengatakan bahwa hakikatnya gaya mengajar yang dimiliki guru adalah strategi transfer informasi yang diberikan kepada siswanya. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswanya.

Penelitian yang dilakukan Howard Gardner menunjukkan bahwa ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Artinya, jika seorang siswa memiliki kecenderungan kecerdasan visual-spasial, gaya belajarnya akan ditunjukkan dengan banyak mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar, senang membaca daripada dibacakan, senang menggambar dan mendesain, serta senang berdemonstrasi daripada ceramah. Gaya belajar ini menjadi modal bagi guru untuk menerapkan gaya mengajarnya sesuai dengan gaya belajar siswa tersebut. Jika hal ini terjadi, dipastikan pembelajaran akan semakin mudah dan menyenangkan bagi guru dan siswanya.

Sebaliknya, siswa tersebut akan cepat merasa bosan dan tidak betah di kelas jika ia punya kecenderungan kecerdasan spasial-visual sementara gurunya mengajar dengan gaya ceramah yang monoton. Dengan begitu, tidak tepat kalau kita sebagai guru memvonis siswa yang bermasalah, lambat, dan gagal, padahal sebenarnya gaya mengajar kita tidak sesuai dengan gaya belajar siswa.

Apabila guru berhasil masuk ke dunia siswa lewat penyesuaian gaya belajar siswa, siswa akan rela hak mengajarnya kepada guru karena, menurut dePorter, wewenang mengajar dan hak mengajar itu berbeda. Mungkin setiap guru yang memiliki lisensi mengajar punya wewenang untuk mengajar. Namun hak mengajar adalah sesuatu yang harus diraih oleh seorang guru dengan kerja keras dan hak tersebut ada dalam keinginan para siswa.

Oleh karena itu, seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Kemudian setiap guru harus menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui dari hasil pengamatan kecerdasan siswa tersebut. (*)

  • USEP SAEFUROHMAN SPd, Guru SDIT Bina Muda Cicalengka dan MA Quwatul Iman Pacet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: